PANDUAN MEMBICARAKAN ANAK KEPADA ORANG LAIN:
Ketika anak melela kepada orangtuanya, pada suatu saat Anda mungkin juga perlu memutuskan apakah informasi tersebut akan disampaikan kepada orang lain. Dalam banyak hal, Anda sedang menjalani proses yang mirip dengan yang telah dilalui anak Anda. Anda mungkin bertanya-tanya siapa yang perlu mengetahui, kapan waktu yang tepat, dan bagaimana jika reaksi mereka tidak seperti yang diharapkan. Pengalaman ini dapat membantu Anda lebih memahami apa yang dirasakan anak ketika memutuskan untuk melela.
Sebelum membicarakannya kepada orang lain, ada dua hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, seberapa nyaman Anda membicarakan identitas anak Anda. Kedua, seberapa siap anak Anda jika informasi tersebut diketahui oleh orang lain di luar keluarga inti.
Sebagian orangtua khawatir apakah mereka harus memberi tahu keluarga besar, sahabat, atau rekan kerja. Ada pula yang takut menghadapi pertanyaan, penilaian, atau komentar yang menyakitkan. Kekhawatiran itu wajar. Namun, ingatlah bahwa tidak ada kewajiban untuk memberitahu semua orang. Siapa yang perlu mengetahui dan kapan mereka perlu mengetahuinya adalah keputusan yang sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan Anda sekaligus kebutuhan anak Anda.
KAPAN SAYA BOLEH MEMBERITAHU ORANG LAIN?
Menceritakan identitas anak kepada anggota keluarga, kerabat, sahabat, atau rekan kerja biasanya terjadi secara bertahap. Tidak ada jadwal yang harus diikuti. Waktunya bergantung pada kesiapan Anda dan, yang tidak kalah penting, kesiapan anak Anda untuk diketahui oleh orang lain.
Secara umum, terdapat lima situasi yang paling sering dihadapi orangtua. Masing-masing membutuhkan pendekatan yang berbeda.
ANDA DAN ANAK SAMA-SAMA SIAP, ANAK YANG MENGATAKANNYA
Ini adalah situasi yang paling ideal. Anda merasa siap, anak Anda juga merasa siap, dan ia ingin menyampaikan identitasnya sendiri kepada orang lain.
Identitas seksual adalah informasi yang bersifat pribadi. Karena itu, jika anak Anda ingin mengatakannya sendiri, berikan ruang bagi dirinya untuk memilih waktu, tempat, dan cara yang menurutnya paling nyaman. Anda tidak perlu mengambil alih percakapan tersebut. Yang paling dibutuhkan anak adalah mengetahui bahwa Anda berada di belakangnya jika ia memerlukan kehadiran Anda.
Sampaikan bahwa Anda bersedia mendampinginya apabila suatu saat ia menginginkannya. Misalnya, ia mungkin ingin Anda hadir ketika berbicara kepada kakek dan nenek, atau hanya duduk di ruangan yang sama agar ia merasa lebih tenang.
Ajak anak mendiskusikan kemungkinan reaksi yang akan ia hadapi. Tidak semua orang akan memberikan tanggapan yang sama. Ada yang langsung menerima, ada yang membutuhkan waktu, dan ada pula yang mungkin mengutip ajaran agama, mengatakan bahwa ini hanya fase, menyalahkan pola asuh orangtua, atau menganggap anak sedang bingung.
Daripada menebak-nebak, tanyakan kepada anak, “Kalau ada yang mengatakan seperti itu, menurutmu apa yang ingin kamu lakukan?”
Pertanyaan sederhana ini membantu anak mempersiapkan diri tanpa membuatnya merasa harus menghadapi semuanya sendirian. Anda tidak perlu menyiapkan semua jawabannya. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa setelah percakapan itu selesai, anak tahu ia masih memiliki tempat yang aman untuk pulang dan bercerita.
ANDA DAN ANAK SAMA-SAMA SIAP, ANDA YANG MENYAMPAIKANNYA
Situasi ini juga cukup sering terjadi. Anak Anda sudah menerima identitasnya, tetapi belum merasa percaya diri untuk membuka percakapan dengan orang tertentu. Ia mungkin meminta Anda menjadi orang yang menyampaikan kabar tersebut terlebih dahulu.
Sebelum melakukannya, bicarakan dengan anak Anda mengenai apa saja yang boleh disampaikan. Jangan berasumsi bahwa Anda sudah mengetahui keinginannya. Tanyakan secara spesifik informasi apa yang boleh dibagikan, kepada siapa, dan sejauh mana percakapan itu boleh berkembang.
Misalnya, anak mungkin hanya ingin Anda membuka percakapan, tetapi ia sendiri yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan setelahnya. Bisa juga ia meminta Anda menjelaskan situasinya secara singkat tanpa membahas hal-hal yang lebih pribadi.
Diskusikan pula pilihan kata yang ingin digunakan. Sebagian anak merasa lebih nyaman menggunakan istilah tertentu, sementara yang lain memilih istilah yang berbeda. Menggunakan bahasa yang sesuai dengan keinginan anak menunjukkan bahwa Anda menghormati dirinya dan tetap menjaga kepercayaannya.
ANAK SIAP, ANDA BELUM
Situasi ini sering kali membuat orangtua merasa bersalah. Anak sudah siap membuka dirinya kepada orang lain, sementara Anda masih membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sedang terjadi. Perasaan itu dapat dimengerti. Anak Anda telah melalui proses yang panjang untuk memahami dirinya, sedangkan bagi Anda, semua ini mungkin baru dimulai.
Jika memang demikian, jujurlah kepada anak Anda. Katakan bahwa Anda menyayanginya, tetapi masih membutuhkan sedikit waktu untuk mempersiapkan diri. Jelaskan bahwa yang Anda perlukan bukanlah agar ia kembali menyembunyikan dirinya, melainkan kesempatan untuk memahami situasi ini dengan lebih baik.
Anda dapat mengatakan, “Ibu (atau Ayah) senang kamu sudah merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Namun, bagi Ibu (atau Ayah), semua ini masih terasa baru. Bolehkah Ibu (atau Ayah) meminta sedikit waktu untuk memahami semuanya terlebih dahulu?”
Jika memungkinkan, sepakati bersama kapan percakapan ini akan dibahas kembali. Misalnya,
“Bagaimana kalau tiga minggu lagi kita berbicara lagi tentang rencanamu memberi tahu orang lain? Selama itu, Ibu (atau Ayah) akan berusaha belajar dan memahami situasi ini sebaik mungkin.”
Jika anak Anda menyetujuinya, pastikan penundaan tersebut benar-benar bersifat sementara. Menyimpan rahasia dalam waktu yang singkat bisa menjadi bagian dari proses penyesuaian. Namun, jika berlangsung terlalu lama, anak mungkin merasa harus terus menutupi dirinya, menghindari pertanyaan, atau bahkan berbohong kepada orang-orang yang dekat dengannya. Keadaan seperti itu dapat menjadi beban yang tidak perlu bagi kesehatan jiwanya.
ANDA SIAP, ANAK BELUM
Ada kalanya justru Anda yang merasa siap, sementara anak belum ingin orang lain mengetahui identitasnya. Dalam situasi ini, usahakan mengikuti kesiapan anak. Melela adalah keputusan yang sangat pribadi, dan memiliki kendali atas siapa yang mengetahui identitasnya merupakan bagian penting dari proses tersebut.
Anda mungkin merasa ingin bercerita kepada saudara, sahabat, atau pasangan yang dapat dipercaya karena membutuhkan dukungan. Perasaan itu wajar. Namun, sebelum melakukannya, pertimbangkan apakah keputusan tersebut sesuai dengan keinginan anak Anda. Sebisa mungkin, jangan sampai anak mengetahui bahwa identitasnya telah diceritakan kepada orang lain tanpa persetujuannya.
Jika anak belum siap, hormati keputusannya. Hindari mendorongnya untuk segera membuka diri atau menentukan cara yang menurut Anda paling tepat. Yang paling dibutuhkan anak pada tahap ini adalah keyakinan bahwa ia tetap memiliki kendali atas kisah hidupnya.
Berikan waktu agar ia semakin nyaman dengan dirinya sendiri. Beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian, Anda dapat menanyakannya kembali dengan lembut. Misalnya, “Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah ada yang berubah sejak terakhir kita membicarakan hal ini?”
Pertanyaan seperti ini lebih membantu daripada mendesaknya mengambil keputusan.
ANDA DAN ANAK SAMA-SAMA BELUM SIAP
Jika Anda dan anak sama-sama belum siap memberitahu orang lain, tidak ada alasan untuk terburu-buru. Tidak ada kewajiban untuk segera membuka informasi ini kepada keluarga besar, kerabat, atau siapa pun. Setiap keluarga memiliki waktunya sendiri.
Untuk sementara, biarkan informasi ini tetap berada di antara Anda dan anak. Gunakan waktu tersebut untuk saling memahami dan membangun rasa aman. Hubungan yang hangat di dalam keluarga jauh lebih penting daripada seberapa cepat orang lain mengetahui situasi ini.
Bicarakan hal-hal yang masih terasa sulit bagi masing-masing. Anda mungkin masih memiliki banyak pertanyaan. Anak Anda mungkin masih menyimpan kekhawatiran atau ketakutan. Percakapan-percakapan seperti ini memang tidak selalu mudah, tetapi justru dapat membuat Anda berdua semakin terbiasa membicarakan topik yang sebelumnya terasa sensitif.
Seiring waktu, ketika rasa nyaman itu bertumbuh, Anda dan anak akan lebih siap menentukan apakah, kapan, dan kepada siapa informasi ini ingin disampaikan. Tidak ada keputusan yang harus dibuat hari ini. Yang terpenting adalah Anda tetap berjalan bersama sebagai sebuah keluarga.
ANAK SAYA BELUM MEMBERITAHU PASANGAN SAYA. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?
Tidak semua anak memilih untuk melela kepada kedua orangtuanya pada waktu yang sama. Ada yang lebih dahulu terbuka kepada ibu, ada pula yang lebih dahulu berbicara kepada ayah. Hal ini tidak selalu berarti hubungan anak dengan orangtua yang lain kurang dekat. Sering kali, anak hanya merasa lebih aman memulai percakapan dengan satu orang terlebih dahulu.
Di balik keputusan itu biasanya ada berbagai pertimbangan. Anak mungkin khawatir akan ditolak, takut mengecewakan salah satu orangtuanya, atau belum siap menghadapi reaksi yang berbeda. Apa pun alasannya, keputusan tersebut umumnya lahir dari keinginan melindungi dirinya sendiri, bukan untuk menyakiti orangtuanya.
Langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah mengajak anak berdiskusi mengenai rencananya. Tanyakan dengan tenang apakah ia sudah memikirkan kapan dan bagaimana ingin memberitahu pasangan Anda. Hindari mendesaknya mengambil keputusan saat itu juga. Yang lebih penting adalah memahami apa yang sedang ia rasakan.
Dalam percakapan itu, Anda mungkin mengetahui bahwa anak berharap Andalah yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Ada pula anak yang hanya membutuhkan waktu beberapa minggu atau beberapa bulan lagi sebelum merasa cukup siap berbicara sendiri. Mengetahui rencananya akan membantu Anda menentukan langkah berikutnya tanpa mengorbankan kepercayaan yang telah ia berikan.
KETIKA ANAK MEMINTA ANDA MEMBERITAHU PASANGAN ANDA
Sebagian anak merasa sanggup menjawab pertanyaan setelah percakapan dimulai, tetapi belum mampu mengucapkan kalimat pertama. Karena itu, mereka meminta Anda membuka pembicaraan kepada pasangan terlebih dahulu. Permintaan seperti ini cukup sering terjadi dan bukan berarti anak ingin menghindari percakapan selamanya. Ia hanya membutuhkan bantuan pada langkah yang paling sulit.
Jika Anda bersedia melakukannya, sepakati lebih dahulu dengan anak mengenai apa yang akan disampaikan. Pastikan Anda memahami informasi mana yang boleh dibagikan dan mana yang masih ingin ia simpan untuk diceritakan sendiri.
Saat berbicara kepada pasangan, jelaskan bahwa melela bukanlah hal yang mudah bagi anak. Tekankan pula bahwa keputusan anak untuk lebih dahulu terbuka kepada salah satu orangtua bukanlah penilaian terhadap kualitas hubungan mereka. Anak sering kali hanya memilih orang yang saat itu dirasakannya paling aman untuk diajak berbicara.
Ingatkan pasangan Anda bahwa pada tahap awal ini, yang paling dibutuhkan anak bukanlah jawaban yang sempurna, melainkan kepastian bahwa ia tetap dicintai.
Kasih sayang tidak harus disampaikan melalui percakapan yang panjang. Kalimat sederhana seperti,
“Ayah (atau Ibu) menyayangimu. Terima kasih sudah berani jujur. Kalau suatu saat kamu ingin bercerita, Ayah (atau Ibu) akan mendengarkan.” sering kali jauh lebih bermakna daripada berusaha langsung mencari penjelasan atau solusi.
Setiap keluarga memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan kasih sayang. Ada orangtua yang nyaman mengungkapkannya dengan kata-kata, ada yang lebih terbiasa menunjukkannya melalui perhatian atau kehadiran. Apa pun bentuknya, usahakan agar anak dapat merasakan satu pesan yang sama: ia tidak sedang menghadapi semua ini sendirian.
KETIKA ANAK BELUM SIAP MEMBERITAHU PASANGAN ANDA
Ada kalanya anak meminta Anda untuk tidak memberi tahu pasangan Anda mengenai identitasnya. Situasi ini sering kali menjadi salah satu yang paling sulit bagi orangtua. Di satu sisi, Anda ingin menjaga kepercayaan anak. Di sisi lain, Anda juga ingin tetap jujur kepada pasangan.
Karena itu, langkah pertama bukanlah segera mengambil keputusan, melainkan mengajak anak berdiskusi. Tanyakan apa yang membuatnya belum siap. Apakah ia takut ditolak? Khawatir mengecewakan orangtuanya? Atau pernah memiliki pengalaman yang membuatnya merasa tidak aman?
Jika anak hanya meminta waktu beberapa minggu atau beberapa bulan, cobalah menghormati permintaannya. Gunakan waktu tersebut untuk membangun keberaniannya, membicarakan kemungkinan reaksi yang akan muncul, dan membantu anak mempersiapkan percakapan dengan pasangan Anda. Selama masih berada dalam tenggat waktu yang disepakati bersama, menjaga kepercayaan anak biasanya merupakan pilihan yang bijaksana.
Namun, situasinya berbeda jika anak mengatakan bahwa ia tidak ingin pasangan Anda mengetahui hal ini untuk selamanya. Pada titik itu, Anda perlu menjelaskan dengan jujur bahwa menyimpan rahasia sebesar ini tanpa batas waktu akan sangat sulit bagi Anda. Sampaikan hal tersebut dengan tenang agar anak memahami bahwa Anda tidak sedang menolak dirinya, melainkan sedang mencari jalan yang tetap menghormati semua hubungan yang ada di dalam keluarga.
Anda dapat mengatakan,”Ibu (atau Ayah) ingin menjaga kepercayaanmu. Namun, Ibu (atau Ayah) juga tidak ingin membangun hubungan berdasarkan rahasia yang harus disimpan selamanya. Mari kita mencari cara yang paling baik bersama.”
Kalimat seperti ini membantu anak melihat bahwa persoalannya bukan memilih antara dirinya atau pasangan Anda, melainkan mencari solusi yang tetap menjaga kepercayaan semua pihak.
Jika anak belum siap karena benar-benar takut tidak akan diterima oleh pasangan Anda, jangan buru-buru meyakinkannya bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Bila Anda sendiri memiliki kekhawatiran yang sama, tidak perlu berpura-pura. Yang lebih menenangkan bagi anak adalah mengetahui bahwa Anda memahami ketakutannya dan akan mendampinginya menghadapi situasi tersebut.
Ketika akhirnya tiba saatnya berbicara kepada pasangan, usahakan agar anak merasakan kehadiran Anda secara konsisten. Sikap yang tenang dan kesediaan untuk tetap berada di sisinya sering kali jauh lebih berarti daripada berusaha mengatakan semua hal dengan sempurna.
Pasangan Anda mungkin membutuhkan waktu untuk memproses informasi ini. Reaksi pertama yang muncul—baik berupa kebingungan, kesedihan, kemarahan, atau penolakan—belum tentu mencerminkan sikapnya di masa depan. Banyak orangtua memerlukan waktu untuk memahami keadaan sebelum mampu memberikan kasih sayang yang mereka inginkan. Karena itu, usahakan untuk tidak menilai seluruh masa depan keluarga hanya dari percakapan pertama.
Selama proses tersebut, tetaplah mengutamakan kebutuhan anak. Pastikan ia mengetahui bahwa ia tidak kehilangan tempat yang aman untuk bercerita, sekalipun orangtuanya masih sedang belajar memahami situasi ini.
Apabila untuk sementara Anda menjadi penengah antara anak dan pasangan, ingatlah bahwa peran tersebut tidak dapat dijalankan sendirian. Anda juga membutuhkan tempat yang aman untuk berbagi cerita, bertanya, dan mencari dukungan. Itu bisa berupa sahabat yang dapat dipercaya, anggota keluarga yang bijaksana, konselor, psikolog, atau kelompok dukungan orangtua yang memahami situasi serupa. Meminta bantuan bukan berarti Anda gagal sebagai orangtua. Justru dengan menjaga diri sendiri, Anda akan lebih siap mendampingi anak dan pasangan melalui masa yang tidak mudah ini.
Pada akhirnya, melela bukanlah satu percakapan yang selesai dalam sehari. Bagi banyak keluarga, ini adalah awal dari serangkaian percakapan yang akan terus berkembang seiring waktu. Tidak semua pertanyaan harus terjawab hari ini, dan tidak semua perasaan harus selesai diproses sekaligus. Yang terpenting adalah setiap anggota keluarga tetap merasa didengar, dihargai, dan dicintai. Dengan kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang satu sama lain, keluarga Anda dapat melalui proses ini bersama-sama.
APA YANG AKAN DIPIKIRKAN ORANG TENTANG KELUARGA KAMI JIKA SAYA BERCERITA TENTANG ANAK SAYA?
Tidak ada yang benar-benar dapat mengetahui bagaimana reaksi orang lain sebelum percakapan itu terjadi. Wajar jika Anda merasa cemas membayangkan berbagai kemungkinan. Dalam banyak hal, Anda sedang mengalami proses yang mirip dengan yang pernah dialami anak ketika pertama kali melela kepada Anda.
Mungkin untuk pertama kalinya Anda bertanya-tanya, “Bagaimana jika mereka menolak? Bagaimana jika mereka menghakimi keluarga kami?” Pertanyaan-pertanyaan itu juga mungkin pernah memenuhi pikiran anak Anda sebelum ia memutuskan untuk terbuka. Pengalaman ini dapat membantu Anda memahami betapa besar keberanian yang dibutuhkan anak untuk melela kepada orang lain.
Banyak orangtua merasa percakapan seperti ini harus dilakukan secara sangat serius. Padahal, tidak selalu demikian. Jika Anda merasa nyaman, percakapan dapat berlangsung secara santai dan alami. Anda tidak harus menunggu suasana yang sempurna atau memilih kata-kata yang sempurna.
Anda mungkin membicarakannya ketika sedang membantu saudara memasak di dapur, menemani sahabat minum kopi, atau berbincang setelah menghadiri acara keluarga. Yang lebih penting bukanlah suasananya, melainkan bahwa Anda merasa siap dan berbicara kepada orang yang dapat menghormati kepercayaan Anda.
Jika Anda sedang mencari dukungan, pilihlah seseorang yang mampu mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Tidak apa-apa jika Anda mengatakan bahwa Anda masih bingung, masih belajar, atau membutuhkan teman berbagi. Anda tidak harus terlihat kuat sepanjang waktu.
Orang akan memberikan tanggapan yang berbeda-beda. Sebagian akan mendengarkan dengan penuh perhatian, mengajukan pertanyaan yang tulus, atau berbagi pengalaman mereka sendiri. Ada pula yang mungkin mengatakan hal-hal yang menyakitkan, mempertanyakan cara Anda membesarkan anak, mengutip keyakinan tertentu, atau bertanya dengan cara yang terasa menghakimi.
Jika menghadapi situasi seperti itu, usahakan menjawab sebatas yang Anda rasa nyaman. Anda tidak berkewajiban menjelaskan semua hal atau membela diri.
Misalnya, jika seseorang bertanya, “Kok anakmu tahu kalau dia gay?”
Anda tidak harus menjawab panjang lebar. Anda dapat mengatakan, “Yang paling penting bagi kami saat ini bukan bagaimana ia menyadarinya, tetapi bagaimana kami tetap menjadi keluarga yang saling menyayangi.”
Jawaban seperti ini membantu menjaga percakapan tetap terbuka tanpa membuat Anda terjebak dalam perdebatan yang tidak perlu.
Tidak semua pertanyaan akan menyenangkan untuk didengar. Terkadang orang lain bertanya karena mereka belum memahami situasi ini. Terkadang pula mereka bertanya dengan cara yang kurang peka. Jika ada pertanyaan yang terasa menyinggung, Anda berhak mengatakan bahwa pertanyaan tersebut membuat Anda tidak nyaman atau memilih untuk tidak menjawabnya.
Ingatlah bahwa orang lain juga sedang memproses informasi yang baru mereka terima. Sama seperti Anda membutuhkan waktu ketika pertama kali mengetahui identitas anak, sebagian dari mereka mungkin juga memerlukan waktu untuk memahami situasi ini. Reaksi pertama mereka belum tentu menjadi sikap mereka selamanya.
Namun, akan ada juga orang yang tetap tidak dapat menerima identitas anak Anda. Jika itu terjadi, usahakan untuk tetap berpihak kepada anak Anda. Anda tidak harus memutuskan hubungan dengan semua orang yang berbeda pendapat, tetapi Anda juga tidak perlu membiarkan siapa pun merendahkan atau menyakiti anak Anda.
Jika seseorang terus memaksakan keyakinan, menghakimi, atau membuat Anda dan anak merasa tidak aman, tidak apa-apa bila Anda membatasi hubungan dengannya. Menjaga kesehatan dan ketenangan keluarga bukanlah tindakan yang egois.
Pada akhirnya, Anda mungkin akan terkejut melihat siapa saja yang justru memberikan dukungan. Kadang-kadang orang yang tidak pernah kita sangka menjadi tempat bersandar, sementara orang yang selama ini dekat membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami. Percakapan-percakapan ini memang tidak selalu mudah, tetapi sering kali membantu Anda melihat siapa saja yang benar-benar mampu berjalan bersama keluarga Anda.
APA KESIMPULAN MENGENAI MEMBERITAHU ORANG LAIN?
Ketika anak melela kepada Anda, perjalanan itu tidak berhenti di sana. Pada waktunya, Anda mungkin juga akan menghadapi keputusan apakah dan bagaimana menceritakan hal ini kepada orang lain. Dalam proses tersebut, Anda mungkin merasakan sebagian dari kecemasan, keraguan, dan harapan yang pernah dirasakan anak Anda ketika pertama kali membuka dirinya.
Sebelum memberi tahu orang lain, bicarakan terlebih dahulu dengan anak Anda. Pastikan Anda memahami apakah ia siap, siapa yang boleh mengetahui, dan bagaimana ia ingin informasi itu disampaikan.
Jika pasangan Anda membutuhkan waktu untuk menerima keadaan, berikan ruang baginya untuk memproses perasaannya. Pada saat yang sama, tetaplah memberikan kasih sayang yang konsisten kepada anak Anda. Kedua hal tersebut dapat berjalan berdampingan.
Orang lain pun mungkin membutuhkan waktu untuk memahami situasi ini. Berikan ruang bagi mereka untuk bertanya dan mengungkapkan perasaannya, selama percakapan tetap berlangsung dengan saling menghormati.
Yang tidak kalah penting, jangan lupakan diri Anda sendiri. Anda tidak harus melalui semua ini sendirian. Carilah orang-orang yang dapat mendengarkan, dan memahami Anda serta keluarga.
Pada akhirnya, tujuan utama dari semua percakapan ini bukanlah membuat semua orang memiliki pendapat yang sama. Tujuannya adalah membantu anak Anda tetap merasa aman, dan dicintai di dalam keluarganya. Ketika keluarga dapat menjadi tempat yang aman, Anda telah memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada persetujuan siapa pun di luar sana.
Di bawah ini adalah beberapa bagian lain yang bisa Anda baca jika membutukan informasi lebih lanjut:






















No Responses to “Membicarakan Anak Anda kepada Orang Lain”