• ABOUT
  • PARENTS GUIDE
  • SHARE YOUR STORY
  • FAQ
  • MEDIA MENTIONS
  • MAKE A DONATION
  • MORE

Logo

Gallery

Navigation
  • Home

Menyikapi Kehidupan Pribadi Anak

By Melela.org | on August 3, 2023 | 0 Comment
Parents Guide

Foto: Ferdo Agusta

LANGKAH MENYIKAPI KEHIDUPAN PRIBADI ANAK:

Tidak semua orang merasa nyaman membicarakan seksualitas. Karena jarang dibicarakan secara terbuka, topik ini sering dipenuhi prasangka, asumsi, dan stigma.

Bagi orangtua yang memiliki anak dengan orientasi seksual yang berbeda, Anda mungkin dihadapkan pada pembicaraan yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya. Banyak pertanyaan yang muncul karena pengalaman dan pengetahuan Anda selama ini mungkin hanya berkaitan dengan hubungan heteroseksual.

Pada bagian ini, kita akan membahas sejumlah pertanyaan yang bertujuan meluruskan berbagai kesalahpahaman dan stigma mengenai homoseksualitas. Semakin banyak Anda memahami dunia yang dihadapi anak Anda, semakin mudah pula Anda membangun percakapan yang terbuka dan penuh kepercayaan dengannya.

APAKAH INI ARTINYA ANAK SAYA AKAN MENJADI SESEORANG YANG CABUL?

Tidak.

Orientasi seksual tidak menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan seksualnya. Orientasi seksual hanya menjelaskan kepada siapa seseorang memiliki ketertarikan emosional atau/dan seksual. Sebaliknya, perilaku seksual berkaitan dengan pilihan, sikap, dan tindakan seseorang dalam menjalani hubungan seksual. Keduanya adalah hal yang berbeda.

Karena itu, identitas seksual anak Anda tidak dapat dijadikan acuan untuk menilai bagaimana mereka mengelola dorongan seksual, memandang hubungan seksual, ataupun membangun kedekatan emosional dengan pasangannya di masa depan.

Satu-satunya cara untuk memahami pandangan anak Anda mengenai hubungan seksual adalah dengan membicarakannya secara terbuka, penuh rasa hormat, dan dengan keinginan untuk benar-benar memahami perasaannya.

Ketika membicarakan hubungan seksual dengan anak Anda, hindari menggunakan kata-kata atau nada yang menghakimi. Anda dapat memulainya dengan mengatakan:

“Suatu saat, kamu akan sampai pada situasi yang akan menghadapkan kamu pada hubungan seksual. Ibu (atau Ayah) sadar bahwa ini bukan pembicaraan yang biasa kita lakukan. Namun, hubungan seksual adalah bagian penting dalam kehidupan, sehingga Ibu (atau Ayah) ingin kita bisa saling memahami tentang hal ini.”

Usahakan agar pembicaraan mengenai seksualitas menjadi diskusi yang sehat, bukan sesuatu yang dianggap kotor atau tabu. Ketika anak merasa aman untuk berdiskusi, mereka akan lebih mudah memperoleh pemahaman yang dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan di masa depan.

Sebelum mengajukan pertanyaan kepada anak Anda, periksa kembali apakah kata-kata yang Anda gunakan mengandung asumsi atau penilaian tertentu. Tidak hanya isi pertanyaan yang penting, tetapi juga cara dan nada penyampaiannya.

Tidak apa-apa jika Anda merasa canggung membicarakan seksualitas. Daripada berpura-pura terlihat nyaman, lebih baik mengakui bahwa pembicaraan ini memang tidak mudah bagi Anda. Kejujuran seperti ini justru sering kali membangun rasa saling menghormati dan membuka ruang untuk percakapan yang lebih mendalam.

Pada akhirnya, jangan membebankan kekhawatiran Anda mengenai perilaku seksual kepada orientasi seksual anak Anda. Keduanya bukanlah hal yang sama.

Seiring bertambahnya usia, anak Anda akan mulai membicarakan hubungan seksual dengan teman-temannya, membentuk pandangan sendiri, dan suatu saat mengambil keputusan mengenai tubuh serta relasinya. Peran orangtua bukan mengendalikan keputusan tersebut, melainkan membekali anak dengan nilai, pengetahuan, dan kemampuan berpikir agar mereka dapat membuat pilihan yang bertanggung jawab ketika waktunya tiba.

Tubuh anak Anda adalah milik mereka. Tugas orangtua bukan mengambil alih kendali atas tubuh tersebut, melainkan mendampingi anak agar mampu merawat, menghargai, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

BAGAIMANA MEMBICARAKAN HUBUNGAN SEKS YANG AMAN TANPA MENDORONG ANAK UNTUK MELAKUKANNYA?

Banyak orangtua menghindari membicarakan hubungan seksual karena khawatir hal tersebut akan mendorong anak untuk melakukannya. Sebagian orangtua juga beranggapan bahwa jika anak tidak diberi informasi mengenai hubungan seksual, mereka tidak akan melakukannya. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Anak Anda akan memperoleh informasi mengenai hubungan seksual, baik dari Anda maupun dari berbagai sumber lain.

Walaupun Anda memilih untuk tidak membicarakannya, besar kemungkinan anak Anda tetap akan terpapar berbagai informasi mengenai hubungan seksual. Karena itu, peran orangtua adalah membantu anak memahami seksualitas secara benar, termasuk hubungan seksual, berbagai konsekuensinya, serta cara menjaga kesehatan dan keselamatan seksual. Bekal ini akan membantu mereka membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab di masa depan.

Cara membicarakan seksualitas tidak harus selalu berupa percakapan yang panjang dan serius. Pembicaraan semacam ini justru sering kali lebih efektif jika dilakukan sedikit demi sedikit, dalam berbagai kesempatan, seiring bertambahnya usia dan kematangan anak.

Sebagian orangtua memilih membaginya menjadi beberapa percakapan singkat, sementara yang lain merasa lebih nyaman menuliskannya dalam sebuah surat. Apa pun caranya, sesuaikan dengan kenyamanan Anda dan anak, serta pastikan informasi yang diberikan berasal dari sumber yang akurat.

Yang tidak kalah penting adalah membangun suasana yang membuat anak merasa aman untuk bertanya tentang hal-hal pribadi. Ini bukan berarti Anda harus mengetahui seluruh kehidupan pribadi anak, tetapi menunjukkan bahwa Anda selalu bersedia mendengarkan dan membantu ketika mereka membutuhkan.

Apabila muncul pertanyaan yang belum dapat Anda jawab, tidak apa-apa untuk mengatakannya dengan jujur. Misalnya, “Ibu (atau Ayah) belum mengetahui jawabannya sekarang, tetapi kita bisa mencari tahu bersama,” atau “Ibu (atau Ayah) tahu di mana kita bisa mendapatkan informasi yang dapat dipercaya.” Menghargai pertanyaan anak akan membuat mereka lebih nyaman berdiskusi pada kesempatan berikutnya.

HARUSKAH SAYA KHAWATIR ANAK SAYA AKAN TERTULAR PENYAKIT MENULAR SEKSUAL DAN HIV?

Kekhawatiran mengenai penyakit menular seksual merupakan hal yang wajar dimiliki setiap orangtua, apa pun orientasi seksual anaknya. Risiko penyakit menular seksual berkaitan dengan perilaku seksual yang tidak aman, bukan dengan identitas atau orientasi seksual seseorang.

Pada awal tahun 1980-an, dunia dikejutkan oleh kemunculan HIV/AIDS. Karena penyakit ini masih sangat baru, pengetahuan mengenai cara penularan dan pengobatannya saat itu masih terbatas. Banyak pasien meninggal dalam waktu singkat, dan karena pada awal epidemi banyak kasus ditemukan pada laki-laki gay, muncul anggapan yang keliru bahwa HIV/AIDS adalah “penyakit gay”. Stigma tersebut bertahan hingga sekarang, meskipun telah lama diketahui bahwa anggapan tersebut tidak benar.

Orientasi seksual tidak menyebabkan seseorang tertular HIV ataupun penyakit menular seksual lainnya. Penularan berkaitan dengan perilaku yang berisiko, bukan dengan siapa seseorang tertarik secara emosional maupun seksual.

Seiring bertambahnya usia dan kematangan anak, Anda dapat mulai mengajak mereka membicarakan risiko hubungan seksual serta cara melindungi diri dari penyakit menular seksual. Sayangnya, pendidikan seksual yang tersedia sering kali hanya membahas hubungan heteroseksual sehingga remaja LGBT tidak selalu memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam kondisi seperti ini, perhatian dan informasi yang diberikan orangtua dapat menjadi bekal yang sangat berarti.

ANAK SAYA MENGENALKAN SAYA PADA TEMANNYA. BAGAIMANA SAYA TAHU KALAU IA LEBIH DARI SEKADAR TEMAN?

Semakin dekat hubungan Anda dengan anak, semakin besar kemungkinan mereka menceritakan kehidupan pribadinya secara sukarela.

Apabila Anda ingin mengetahui apakah anak sedang menjalin hubungan dengan seseorang, sampaikan rasa ingin tahu tersebut dengan terbuka. Namun, jelaskan pula bahwa pertanyaan Anda lahir dari kepedulian, bukan keinginan untuk mengendalikan atau melarang hubungan mereka.

Apa pun jawaban anak Anda, tunjukkan bahwa Anda mempercayainya. Rasa saling percaya merupakan salah satu dasar hubungan yang sehat antara orangtua dan anak.

Hindari membaca buku harian anak, memeriksa isi telepon genggam tanpa izin, atau mencari informasi tentang anak melalui teman-temannya secara diam-diam. Tindakan seperti ini dapat merusak kepercayaan yang telah dibangun.

Ketika anak mengakui bahwa mereka sedang memiliki seorang kekasih, usahakan agar reaksi pertama Anda tetap hangat. Jika respons Anda langsung dipenuhi kekhawatiran atau rentetan pertanyaan, anak mungkin akan merasa enggan berbagi cerita lagi di kemudian hari.

Apabila ada hal yang membuat Anda khawatir, sampaikan kekhawatiran tersebut sebagai bentuk perhatian, bukan sebagai upaya mengendalikan pilihan anak. Sikap yang terbuka akan membuat mereka lebih mungkin meminta pendapat Anda ketika menghadapi persoalan dalam hubungannya.

Sebaliknya, apabila Anda merasa anak tidak berkata jujur meskipun hubungan kalian sudah terbuka, bicarakan hal tersebut sesegera mungkin. Jelaskan bahwa yang mengecewakan Anda adalah kebohongannya, bukan identitas seksual ataupun hubungan yang sedang dijalaninya.

BAGAIMANA SAYA MENYIKAPI TEMAN ANAK SAYA YANG MENGINAP DI RUMAH?

Banyak orangtua merasa mudah menetapkan bahwa teman lawan jenis tidak boleh menginap. Setelah anak melela, menerapkan aturan yang sama sering kali terasa lebih membingungkan.

Prinsip yang sebaiknya dipegang adalah membuat aturan yang berlaku sama bagi semua anak dan semua teman mereka, tanpa membedakan jenis kelamin maupun orientasi seksual.

Misalnya, Anda dapat memperbolehkan teman menginap, tetapi menetapkan bahwa siapa pun yang menginap tidur di ruang bersama, bukan di kamar tidur. Aturan seperti ini lebih mudah dipahami karena berlaku secara konsisten bagi semua orang.

Ketika membuat aturan, jelaskan pula alasan di balik keputusan tersebut. Anak akan lebih mudah menerima batasan jika mereka memahami tujuan yang ingin dicapai. Sampaikan aturan dengan tenang tanpa memberi kesan bahwa Anda sedang mengawasi atau mencurigai mereka.

Yang terpenting, pastikan anak memahami bahwa aturan tersebut dibuat untuk semua anggota keluarga secara adil, bukan karena identitas seksual mereka. Dengan demikian, anak tidak akan merasa diperlakukan berbeda atau didiskriminasi.

APA KESIMPULAN DARI MELAWAN STIGMA DAN MENYIKAPI KEHIDUPAN PRIBADI ANAK?

Melawan stigma dimulai dengan membedakan fakta dari asumsi. Orientasi seksual tidak menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupan seksualnya, seberapa besar dorongan seksualnya, ataupun seberapa bertanggung jawab ia dalam menjalin hubungan. Yang lebih berpengaruh adalah nilai-nilai yang dimiliki seseorang, pengetahuan yang ia peroleh, serta keputusan yang ia ambil.

Orangtua memiliki peran penting dalam membantu anak memahami seksualitas secara sehat. Percakapan yang jujur, terbuka, dan penuh rasa hormat akan jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan anak mencari jawaban sendiri dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya. Ketika anak merasa diterima, mereka juga akan lebih mudah meminta bantuan apabila menghadapi persoalan di kemudian hari.

Kekhawatiran mengenai penyakit menular seksual sebaiknya dipahami sebagai isu kesehatan, bukan sebagai konsekuensi dari orientasi seksual tertentu. Setiap orang yang melakukan hubungan seksual berisiko apabila tidak memahami cara melindungi dirinya. Karena itu, pendidikan seksual yang tepat merupakan bekal penting bagi semua anak.

Pada akhirnya, tujuan orangtua bukan mengendalikan seluruh kehidupan pribadi anak, melainkan membangun hubungan yang cukup aman sehingga anak tetap bersedia datang kepada orangtuanya ketika membutuhkan perhatian. Kepercayaan seperti inilah yang akan menjadi perlindungan terbaik bagi anak, jauh melampaui aturan apa pun yang diterapkan di rumah.

Di bawah ini adalah beberapa bagian lain yang bisa Anda baca jika membutukan informasi lebih lanjut:

Ketika Anak Melela
Reaksi Pertama Orangtua
Membicarakan Anak Kepada Orang Lain
Masa Depan Anak
Memahami Gender
Share this story:
  • tweet

Recent Posts

  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih

    June 9, 2026 - 0 Comment
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan

    December 16, 2025 - 0 Comment
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri

    August 10, 2024 - 0 Comment

Author Description

Melela.org memberikan wadah pada insan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) dan non-LGBT untuk berbagi cerita, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat akan kelompok minoritas LGBT di Indonesia. Melela.org juga memiliki laman panduan orangtua yang menjawab pertanyaan awal ketika mengetahui anaknya berbeda. Halaman PARENTS GUIDE dapat ditemuka di beranda melela.org.

No Responses to “Menyikapi Kehidupan Pribadi Anak”

Leave a Reply Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*
*

  • Populer
  • Terbaru
  • Pujian
  • Pemahaman Seksualitas yang Tepat Banyak Membantu Dimas ketika Melela

    December 8, 2015 - 20 Comments
  • Goenawan Mohamad: Catatan Seorang Ayah

    November 22, 2013 - 15 Comments
  • Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017

    May 2, 2017 - 13 Comments
  • Hendri Yulius tentang, “The Art of Failure”

    November 25, 2015 - 11 Comments
  • Dr. Ryu Hasan, Sp.BS Ingin Semua Manusia Bahagia Menjadi Diri Sendiri

    February 13, 2014 - 10 Comments
  • Kisah Khrisna Siddharta

    March 15, 2014 - 9 Comments
  • Nurjanah, “LGBT Menyelamatkan Pendidikanku”

    February 4, 2016 - 6 Comments
  • Kunci Kebahagiaan dalam Hidup Tegar Ramadan

    January 2, 2016 - 4 Comments
  • Langkah Wisesa Mengejar Mimpi

    March 1, 2015 - 4 Comments
  • Mudahnya Kejujuran À La Paramita Mohamad

    November 15, 2013 - 3 Comments
  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih

    June 9, 2026 - 0 Comment
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan

    December 16, 2025 - 0 Comment
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri

    August 10, 2024 - 0 Comment
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    December 7, 2023 - 2 Comments
  • Kisah Cinta Pertama Denny dan Memaafkan Keluarga

    October 30, 2023 - 0 Comment
  • Memahami Gender

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Masa Depan Anak

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Reaksi Pertama Orangtua

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Ketika Anak Melela

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Membicarakan Anak Anda kepada Orang Lain

    June 21, 2023 - 0 Comment
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    Saya minta tolong perbanyak kisah dari sudut pandang...
    February 26, 2024 - L
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    Mamii orang yang strong dan penuh kebaikan miss u mami
    December 7, 2023 - Jia
  • Mudahnya Kejujuran À La Paramita Mohamad

    Kami juga senang kisah yang kami terbitkan membuat Janis senang...
    August 4, 2023 - Melela.org
  • Mudahnya Kejujuran À La Paramita Mohamad

    saya rasa GM akan lebih bahagia jika punya cucu, lalu meninang-nimang...
    August 23, 2021 - kawe
  • Polin Impola Gemar Digoda

    Hi Kepo, terima kasih atas pertanyaannya. Rio Damar adalah penggagas...
    May 19, 2021 - Melela.org

Archives

Artikel Populer

  • Pemahaman Seksualitas yang Tepat Banyak Membantu Dimas ketika Melela

    December 8, 2015 - 20 Comments
  • Goenawan Mohamad: Catatan Seorang Ayah

    November 22, 2013 - 15 Comments
  • Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017

    May 2, 2017 - 13 Comments
  • Hendri Yulius tentang, “The Art of Failure”

    November 25, 2015 - 11 Comments
  • Dr. Ryu Hasan, Sp.BS Ingin Semua Manusia Bahagia Menjadi Diri Sendiri

    February 13, 2014 - 10 Comments

Kisah Terbaru

  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih June 9, 2026
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan December 16, 2025
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri August 10, 2024
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil December 7, 2023
  • Kisah Cinta Pertama Denny dan Memaafkan Keluarga October 30, 2023

Archives

MAKE A DONATION

Dukungan Anda penting untuk memastikan kelangsungan berjalannya situs melela.org. Semakin bertambahnya cerita yang dikirimkan dan dimuat dalam melela.org, semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk memastikan website ini tetap dapat diakses. Melela.org bergantung pada donasi yang diberikan pihak pribadi maupun institusi.

Berikan donasi Anda hari ini.

  • Home
  • ABOUT
  • FAQ
  • MAKE A DONATION
  • MEDIA MENTIONS
  • MORE
  • SHARE YOUR STORY
© 2012. All Rights Reserved.