SETELAH MENGETAHUI ANAK ANDA BERBEDA
Setelah anak melela, banyak orangtua merasa pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Sebagian muncul karena rasa ingin tahu, sebagian lagi muncul karena rasa sayang.
Anda mungkin mulai membayangkan masa depan anak. Apakah ia akan diterima oleh lingkungan? Apakah ia akan mengalami diskriminasi? Apakah ia akan menemukan pasangan yang mencintainya? Apakah ia akan hidup bahagia?
Mungkin sebagian kekhawatiran tersebut sebenarnya sudah pernah muncul sebelum anak melela. Namun, setelah mendengarnya secara langsung dari anak, semuanya terasa lebih nyata.
Tidak ada salahnya mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut. Justru, mencari informasi yang dapat dipercaya merupakan salah satu bentuk kasih sayang kepada anak.
Anda dapat berdiskusi dengan anak ketika ia merasa nyaman dan berbicara dengan tenaga profesional maupun orangtua lain yang pernah mengalami situasi serupa. Berikan waktu kepada diri Anda untuk belajar. Tidak semua pertanyaan harus terjawab hari ini.
Semakin baik pemahaman Anda, semakin tenang pula Anda mendampingi anak menjalani perjalanan hidupnya.
APAKAH MENJADI LGBT ITU SEBUAH PILIHAN?
Banyak orangtua bertanya apakah menjadi gay merupakan sebuah pilihan. Pertanyaan ini wajar muncul, terutama ketika seseorang baru pertama kali mengenal isu orientasi seksual.
Namun, kata “pilihan” sering kali menimbulkan kesalahpahaman.
Kita memilih pakaian yang akan dikenakan hari ini. Kita memilih makanan yang ingin dimakan atau tempat yang ingin dikunjungi. Pilihan-pilihan tersebut dapat berubah dari hari ke hari.
Orientasi seksual tidak bekerja seperti itu.
Coba tanyakan kepada diri Anda sendiri: apakah Anda pernah merasa harus memilih untuk tertarik kepada laki-laki atau kepada perempuan? Bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah tidak. Ketertarikan tersebut hadir begitu saja, tanpa melalui proses memilih.
Banyak orang LGBT menggambarkan pengalaman yang serupa. Sebagian mengatakan bahwa mereka sudah merasakan perbedaan itu sejak kecil, meskipun belum memiliki kata-kata untuk menjelaskannya. Sebagian lagi baru memahaminya ketika memasuki masa remaja. Perjalanan setiap orang memang berbeda, tetapi memahami diri sendiri bukan berarti memilih menjadi seseorang yang berbeda.
Karena setiap pengalaman bersifat pribadi, tidak ada salahnya bertanya kepada anak kapan ia mulai menyadari ketertarikannya. Dengarkan jawabannya dengan rasa ingin tahu, bukan untuk menguji apakah jawabannya benar atau salah.
Apa pun kisah yang ia ceritakan, pengalaman tersebut nyata bagi dirinya.
Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa orientasi seksual dapat diubah melalui kemauan, tekanan, atau pengasuhan. Karena itu, yang paling membantu bukanlah berusaha mengubah anak, melainkan memahami pengalaman hidup yang sedang ia jalani.
Anak Anda tetaplah anak yang sama. Orientasi seksual hanyalah salah satu bagian dari dirinya, bukan keseluruhan dirinya.
APAKAH INI SALAH SAYA?
Banyak orangtua pernah menanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri.
Mereka mengingat kembali berbagai hal yang pernah terjadi selama anak bertumbuh. Mainan apa yang dulu dibelikan, pakaian apa yang dikenakan, siapa teman-temannya, bagaimana pola asuh di rumah, bahkan keputusan-keputusan kecil yang pernah diambil bertahun-tahun lalu.
Perasaan ingin mencari penjelasan merupakan hal yang manusiawi. Namun, pertanyaan tentang “siapa yang salah” sering kali membuat orangtua memikul beban yang sebenarnya tidak membantu siapa pun.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dalam memahami orientasi seksualnya. Hingga saat ini, tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan mengapa seseorang memiliki orientasi seksual tertentu.
Karena itu, daripada menghabiskan tenaga mencari kesalahan pada masa lalu, akan jauh lebih bermanfaat menggunakan tenaga tersebut untuk membangun hubungan yang hangat dengan anak pada hari ini.
Jika Anda ingin memahami pengalaman anak, ajukan pertanyaan yang mengundang percakapan, bukan pertanyaan yang menyiratkan rasa bersalah.
Misalnya, daripada bertanya,”Apakah kamu begini karena salah Ibu atau Ayah?”
Anda dapat mengatakan, “Ibu (atau Ayah) ingin memahami pengalamanmu. Sejak kapan kamu mulai menyadari perasaan ini? Apakah ini sesuatu yang sudah lama kamu rasakan?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak merasa didengarkan, bukan dihakimi.
Apabila anak belum siap menjawab, jangan memaksanya. Hormati waktunya. Ketika ia merasa cukup aman, kemungkinan besar ia akan lebih terbuka untuk berbagi cerita.
Hubungan yang dipenuhi rasa ingin memahami akan jauh lebih membantu daripada hubungan yang dipenuhi rasa bersalah.
KETIKA ANAK SUDAH MELELA, APAKAH SAYA BOLEH MENANYAKAN LEBIH LANJUT TENTANG ORIENTASI SEKSUALNYA?
Pada tahap ini, bertanya bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Justru, percakapan yang terbuka dapat membantu Anda memahami pengalaman anak dengan lebih baik sekaligus mempererat hubungan Anda dengannya.
Namun, tujuan bertanya bukanlah untuk memperoleh semua jawaban secepat mungkin. Tujuannya adalah memahami dunia yang sedang dijalani anak.
Sebelum memulai percakapan, ada tiga hal yang patut diingat.
Pertama, sampaikan apa yang Anda rasakan. Tidak apa-apa jika Anda mengatakan bahwa Anda masih belajar memahami situasi ini.
Kedua, jelaskan mengapa Anda ingin bertanya. Misalnya, katakan bahwa Anda ingin lebih memahami pengalaman anak agar dapat mendampinginya dengan lebih baik, bukan karena ingin menghakimi dirinya.
Ketiga, berikan anak keleluasaan untuk menjawab sesuai dengan kesiapan dan kenyamanannya. Ia berhak mengatakan bahwa ia belum siap membicarakan suatu hal.
Tidak semua percakapan akan berjalan mulus. Anak mungkin masih merasa canggung atau khawatir privasinya terganggu. Namun, ketika ia melihat bahwa orangtuanya terus hadir dengan sikap yang penuh rasa hormat, ia akan lebih mudah mempercayai niat baik tersebut.
BAGAIMANA CARA MEMBUKA PERCAKAPAN DENGAN ENAK?
Cara terbaik memulai percakapan adalah meminta izin terlebih dahulu.
Kalimat sederhana seperti, “Apakah kamu keberatan kalau Ibu ingin bertanya beberapa hal?” atau, “Kalau kamu nyaman, Ibu ingin mengobrol tentang apa yang kamu alami.” sering kali terasa lebih menghargai daripada langsung mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi.
Apabila anak mengatakan bahwa ia bersedia, Anda dapat melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih spesifik. Misalnya, “Ibu ingin memahami sejak kapan kamu mulai menyadari perasaan ini. Kalau kamu nyaman bercerita, Ibu akan senang mendengarkannya.”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa Anda sedang meminta izin untuk memasuki wilayah yang sangat pribadi dalam hidup anak.
Jika anak bercerita dengan terbuka, hargailah kepercayaan yang ia berikan. Jangan terburu-buru menyela, menyanggah, atau langsung memberikan pendapat. Sering kali, didengarkan dengan sungguh-sungguh sudah menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi anak.
Percakapan pertama tidak harus menjawab semua pertanyaan. Yang terpenting adalah anak pulang dari percakapan itu dengan keyakinan bahwa rumahnya tetap menjadi tempat yang aman untuk berbicara.
BAGAIMANA BILA DIA TIDAK MAU MENJAWAB?
Tidak semua anak siap menjawab pertanyaan orangtuanya, meskipun mereka sudah melela.
Apabila anak mengatakan bahwa ia belum ingin membahasnya, cobalah menerima jawaban tersebut dengan tenang. Menunggu bukan berarti menyerah. Menunggu adalah bentuk penghormatan terhadap proses yang sedang dijalani anak.
Anda dapat mengakhiri percakapan dengan mengatakan bahwa pintu komunikasi akan selalu terbuka. Misalnya, “Tidak apa-apa kalau sekarang kamu belum ingin bercerita. Kalau suatu hari nanti kamu siap, Ibu akan senang mendengarkannya.”
Anda juga dapat mengajak anak bertanya kepada Anda apabila ada hal yang ingin ia ketahui terlebih dahulu. Percakapan yang baik berjalan dua arah. Tidak hanya orangtua yang bertanya, tetapi juga bersedia menjawab pertanyaan anak.
Sering kali, rasa aman yang Anda bangun hari ini akan menjadi alasan anak kembali berbicara kepada Anda di kemudian hari.
BAGAIMANA BILA DIA MARAH KETIKA DITANYA?
Sebagian anak mungkin merespons pertanyaan orangtua dengan kemarahan, kekecewaan, atau sikap menutup diri. Reaksi tersebut memang dapat terasa menyakitkan bagi orangtua, tetapi bukan berarti hubungan Anda telah gagal.
Bisa jadi anak masih merasa takut, malu, atau belum siap membicarakan bagian tertentu dari hidupnya. Kemarahan sering kali merupakan cara seseorang melindungi dirinya ketika merasa belum siap untuk terbuka.
Apabila hal itu terjadi, jangan memaksa percakapan terus berlanjut. Berikan waktu kepada anak dan kepada diri Anda sendiri.
Beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian, ketika suasana sudah lebih tenang, Anda dapat kembali menanyakan apakah ia sudah merasa lebih nyaman untuk berbicara.
Banyak orangtua khawatir bahwa jika pertanyaan itu tidak dijawab hari ini, mereka tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Pada kenyataannya, hubungan yang dipenuhi kesabaran justru lebih sering menghasilkan percakapan yang jujur daripada hubungan yang dipenuhi desakan.
Yang terpenting bukanlah seberapa cepat Anda mendapatkan jawaban, melainkan apakah anak tetap merasa aman untuk kembali berbicara kepada Anda.
JIKA SALAH SEORANG ANAK SAYA GAY, MUNGKINKAH ANAK SAYA YANG LAIN JUGA GAY?
Dalam satu keluarga, bisa saja terdapat lebih dari satu anak yang memiliki orientasi seksual yang sama. Namun, banyak pula keluarga yang hanya memiliki satu anak LGBT, sementara saudara-saudaranya heteroseksual. Setiap anak memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Karena itu, jangan berusaha menebak orientasi seksual anak-anak Anda berdasarkan pengalaman salah satu di antara mereka.
Yang jauh lebih penting adalah membangun suasana keluarga yang membuat setiap anak merasa diterima apa adanya.
Berhati-hatilah dengan kalimat yang mungkin terdengar sepele, misalnya, “Syukurlah adikmu tidak seperti kakaknya.”
Meskipun diucapkan tanpa niat menyakiti, kalimat seperti ini dapat membuat anak lain yang sedang bergumul dengan identitasnya merasa tidak lagi memiliki ruang yang aman untuk jujur.
Sebaliknya, ketika setiap anak diperlakukan dengan kasih sayang dan rasa hormat yang sama, mereka akan lebih mudah mempercayai bahwa keluarga adalah tempat yang aman, apa pun perjalanan hidup yang mereka jalani.
Tidak ada cara untuk mengetahui orientasi seksual anak hanya karena melihat saudara kandungnya. Namun, selalu ada cara untuk memastikan bahwa setiap anak merasa dicintai tanpa syarat.
APA KESIMPULAN SETELAH ORANGTUA MENGETAHUI ANAK BERBEDA?
Reaksi pertama orangtua sering kali dipenuhi berbagai pertanyaan. Itu adalah bagian yang wajar dari proses memahami sesuatu yang baru. Dari seluruh pembahasan pada bab ini, ada beberapa hal yang dapat menjadi pegangan.
Pertama, orientasi seksual bukanlah pilihan yang dapat diubah begitu saja. Karena itu, memahami pengalaman anak akan jauh lebih membantu daripada berusaha mengubahnya.
Kedua, jangan terlalu lama mencari siapa yang salah atau apa penyebabnya. Tenaga dan perhatian Anda akan lebih bermanfaat jika diarahkan untuk membangun hubungan yang hangat dengan anak hari ini.
Ketiga, berikan anak ruang untuk memahami dirinya. Kesabaran orangtua sering kali menjadi hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada anak selama proses tersebut.
Keempat, setelah anak melela, jangan takut untuk bertanya. Namun, bertanyalah dengan rasa ingin memahami, bukan untuk menguji. Dan apabila jawaban belum datang hari ini, jangan kehilangan harapan. Hubungan yang baik dibangun melalui banyak percakapan, bukan hanya satu.
Pada akhirnya, yang paling diingat anak bukanlah semua pertanyaan yang diajukan orangtuanya, melainkan bagaimana orangtuanya membuat ia merasa dicintai ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Di bawah ini adalah beberapa bagian lain yang bisa Anda baca jika membutukan informasi lebih lanjut:






















No Responses to “Reaksi Pertama Orangtua”