APA YANG DAPAT ORANGTUA KETAHUI TENTANG MEMAHAMI GENDER:
“Identitas gender” merupakan salah satu aspek yang paling kompleks dalam proses seseorang memahami dirinya sendiri. Sebagian anak merasa identitas dan ekspresi gendernya sejalan dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir, sementara sebagian lainnya merasa keduanya tidak sepenuhnya sesuai.
Dalam bagian ini, istilah “jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir” digunakan untuk merujuk pada jenis kelamin yang dicatat ketika seseorang lahir, yang umumnya ditentukan berdasarkan karakteristik fisik. Istilah ini digunakan untuk membedakannya dari “identitas gender”, yaitu bagaimana seseorang memahami dan mengenali dirinya sendiri.
Kurangnya pemahaman mengenai identitas gender sering kali membuat orangtua merasa bingung ketika berusaha memahami pengalaman anak. Sebaliknya, semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, semakin mudah orangtua memahami perjalanan identitas dan ekspresi gender anak. Pemahaman tersebut dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat, terbuka, dan saling percaya.
Bagian ini disusun berdasarkan pengalaman anak-anak yang memiliki identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir, serta pengalaman orangtua mereka. Pertanyaan dan jawaban berikut terinspirasi dari kisah-kisah tersebut.
BAGAIMANA IDENTITAS GENDER BERBEDA DENGAN EKSPRESI GENDER DAN ORIENTASI SEKSUAL?
Ketiga istilah ini sering disamakan, padahal masing-masing memiliki makna yang berbeda.
“Orientasi seksual” berkaitan dengan kepada siapa seseorang merasakan ketertarikan emosional, romantis, atau seksual.
“Identitas gender” biasanya berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami dan mengenali dirinya sendiri sebagai laki-laki atau perempuan. Bagi sebagian orang, identitas gender sejalan dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Bagi sebagian lainnya, keduanya dapat berbeda.
Sebagai contoh, seseorang yang ditetapkan berjenis kelamin laki-laki saat lahir dapat mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki. Namun, ada pula seseorang yang ditetapkan berjenis kelamin laki-laki saat lahir tetapi dalam perkembangannya ia merasa dirinya sebagai perempuan.
“Ekspresi gender” adalah cara seseorang menampilkan atau mengekspresikan dirinya kepada orang lain, misalnya melalui cara berpakaian, gaya rambut, bahasa tubuh, suara, atau perilaku. Ekspresi gender dapat terlihat lebih maskulin, lebih feminin, maupun memadukan keduanya. Ekspresi gender tidak selalu mencerminkan identitas gender maupun orientasi seksual seseorang.
Bagi banyak orang, pemahaman mengenai maskulin dan feminin dipengaruhi oleh budaya, keluarga, dan lingkungan tempat mereka tumbuh. Karena masyarakat terus berkembang, cara memaknai maskulin dan feminin pun dapat berubah dari waktu ke waktu.
ANAK LAKI-LAKI SAYA SUKA BERPAKAIAN SEPERTI PEREMPUAN (ATAU SEBALIKNYA). APAKAH INI BERARTI IA AKAN TUMBUH MENJADI TRANSGENDER?
Belum tentu. Seorang anak laki-laki yang mulai menunjukkan ekspresi gender feminin, atau seorang anak perempuan yang menunjukkan ekspresi gender maskulin, tidak otomatis akan tumbuh menjadi transgender. Pada banyak kasus, anak sedang mengeksplorasi cara-cara yang membuatnya merasa nyaman dalam mengekspresikan dirinya.
Namun, salah satu hal penting untuk dipahami adalah bahwa pakaian tidak selalu mencerminkan identitas gender seseorang. Cara berpakaian merupakan salah satu bentuk ekspresi gender, tetapi identitas gender seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari pilihan pakaiannya.
Sejak lahir, anak sering kali dihadapkan pada berbagai harapan mengenai bagaimana mereka seharusnya berpakaian, bersikap, atau berperilaku berdasarkan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Walaupun pandangan masyarakat terus berubah, harapan-harapan tersebut masih cukup kuat memengaruhi cara kita memandang anak.
Apabila Anda merasa bingung dengan pilihan pakaian anak, cobalah memulai percakapan dengan rasa ingin tahu, bukan dengan asumsi. Misalnya, Anda dapat bertanya, “Apa yang membuatmu merasa nyaman memakai pakaian ini?” atau “Bagaimana perasaanmu ketika mengenakannya?” Pertanyaan seperti ini membuka ruang bagi anak untuk bercerita tanpa merasa dihakimi.
Pilihan pakaian dapat dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari rasa nyaman, ketertarikan pada gaya tertentu, hingga proses mengenal diri sendiri. Apa pun alasannya, kesempatan untuk mengekspresikan diri merupakan bagian penting dari proses membangun rasa percaya diri, kenyamanan, dan penerimaan terhadap diri sendiri.
Jika Anda merasa siap, mendampingi anak memilih pakaian dapat menjadi bentuk perhatian yang bermakna. Namun, jika Anda masih membutuhkan waktu untuk memahami situasi ini, tidak apa-apa untuk mengakuinya. Orangtua juga menjalani proses penyesuaian. Yang terpenting adalah menghindari melampiaskan kebingungan atau kekecewaan kepada anak.
Apabila emosi Anda sedang sulit dikendalikan, berilah diri Anda waktu sejenak untuk menenangkan diri. Setelah itu, jelaskan kepada anak bahwa Anda masih belajar memahami pengalamannya dan sedang berusaha memberikan perhatian yang lebih baik. Sikap jujur seperti ini umumnya lebih membantu daripada berpura-pura memahami ketika sebenarnya belum siap.
Terkadang, rasa kecewa muncul karena orangtua memiliki harapan tertentu mengenai masa depan anak. Seiring bertambahnya usia, sebagian harapan tersebut mungkin perlu disesuaikan dengan kenyataan bahwa setiap anak memiliki perjalanan hidupnya sendiri.
Yang tidak berubah adalah bahwa identitas maupun ekspresi gender anak bukanlah ukuran keberhasilan Anda sebagai orangtua. Keberhasilan orangtua lebih tercermin dari kemampuan untuk tetap menjadi tempat yang aman, penuh kasih sayang, dan bersedia mendampingi anak ketika ia sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
HARUSKAH SAYA MEMBIARKAN JIKA ANAK SAYA INGIN MENGGUNAKAN TOILET UMUM YANG BERBEDA DENGAN JENIS KELAMIN YANG DITETAPKAN SAAT LAHIR?
Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua situasi. Keputusan ini perlu mempertimbangkan berbagai hal, terutama keselamatan dan kenyamanan anak.
Setiap lingkungan memiliki tingkat penerimaan yang berbeda. Karena itu, pilihan yang aman di satu tempat belum tentu aman di tempat lain. Anda dan anak merupakan pihak yang paling memahami situasi di lingkungan tempat Anda tinggal, belajar, atau beraktivitas.
Daripada langsung melarang atau mengizinkan, jadikan situasi ini sebagai bahan percakapan. Tanyakan kepada anak toilet mana yang membuatnya merasa paling aman dan nyaman, lalu diskusikan bersama berbagai risiko yang mungkin muncul. Misalnya, apakah ada kemungkinan mengalami ejekan, intimidasi, atau bahkan kekerasan. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti anak, melainkan membantu mereka mempertimbangkan situasi secara realistis.
Jika persoalan ini terjadi di sekolah, pertimbangannya bisa menjadi lebih kompleks. Cari tahu terlebih dahulu kebijakan sekolah mengenai penggunaan toilet, kemudian bicarakan kebutuhan anak dengan pihak sekolah apabila diperlukan. Dalam beberapa situasi, sekolah mungkin menawarkan alternatif, seperti toilet yang digunakan guru dan staf. Namun, penting juga mempertimbangkan bagaimana solusi tersebut dirasakan oleh anak. Sebagian anak merasa terbantu, sementara yang lain justru merasa dibedakan.
Pada akhirnya, keputusan yang diambil perlu mempertimbangkan keselamatan, kenyamanan, serta kondisi lingkungan tempat anak berada. Dengan terus membuka ruang diskusi, Anda dan anak dapat mencari pilihan yang paling sesuai untuk situasi yang sedang dihadapi.
BAGAIMANA SAYA MENYIKAPI KETIKA ANAK SAYA MULAI MENJALANI TRANSISI GENDER?
Transisi gender adalah proses ketika seseorang melakukan perubahan dalam hidupnya agar dapat menjalani keseharian dengan cara yang lebih sesuai dengan identitas gendernya. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Ada yang hanya melakukan perubahan dalam kehidupan sosialnya, ada yang menjalani terapi hormon, ada pula yang memilih tindakan medis. Tidak semua orang transgender menjalani seluruh tahapan tersebut.
Ketika anak mulai membicarakan keinginannya untuk menjalani transisi, cobalah memahami terlebih dahulu apa yang ia maksud. Tanyakan perubahan apa yang ingin dilakukannya dan alasan di balik keinginannya. Percakapan seperti ini sering kali lebih membantu daripada terburu-buru menyimpulkan apa yang akan terjadi.
Secara umum, transisi dapat mencakup beberapa bentuk.
“Transisi sosial” meliputi perubahan yang tidak melibatkan tindakan medis, misalnya menggunakan nama yang berbeda, mengubah cara berpakaian, atau memilih bentuk ekspresi gender yang dirasa lebih sesuai. Bagi banyak orang transgender, transisi sosial sudah menjadi langkah yang paling penting.
Sebagian orang memilih “terapi hormon” sebagai bagian dari transisi selanjutnya, sementara sebagian lainnya tidak. Demikian pula dengan “tindakan medis”. Memiliki identitas transgender tidak berarti seseorang pasti ingin menjalani terapi hormon maupun operasi. Kebutuhan setiap orang dapat berbeda.
Apabila anak mempertimbangkan terapi hormon atau tindakan medis, pastikan seluruh proses dilakukan bersama tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai. Mintalah penjelasan mengenai manfaat, risiko, keterbatasan, serta dampak jangka panjang dari setiap pilihan. Tidak ada salahnya mencari pendapat dari lebih dari satu tenaga profesional sebelum mengambil keputusan.
Selain mempertimbangkan aspek medis, penting juga membicarakan dampak sosial yang mungkin dihadapi anak. Perubahan penampilan dapat memunculkan berbagai reaksi dari lingkungan, termasuk ejekan, diskriminasi, atau perlakuan yang tidak menyenangkan. Membicarakan kemungkinan tersebut sejak awal dapat membantu anak mempersiapkan diri dan mengetahui bahwa ia tidak menghadapinya sendirian.
Di sisi lain, orangtua juga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Tidak semua perubahan mudah diterima dalam waktu singkat. Jika Anda masih merasa bingung atau belum siap, sampaikan hal tersebut secara jujur kepada anak. Kejujuran yang disampaikan dengan penuh kasih sayang biasanya lebih membantu daripada menolak tanpa penjelasan.
Apabila terdapat keterbatasan lain, misalnya biaya atau kekhawatiran tertentu, bicarakan secara terbuka dengan anak. Bersama-sama, Anda dapat mencari langkah yang paling sesuai dengan kebutuhan anak sekaligus mempertimbangkan kondisi keluarga.
Selama proses ini, usahakan untuk tetap membuka ruang berdiskusi. Tanyakan bagaimana perasaan anak, apa yang ia harapkan dari Anda, dan apakah ia merasa membutuhkan pendampingan dari konselor atau tenaga profesional lainnya. Yang terpenting, ingatlah bahwa perubahan penampilan tidak mengubah nilai-nilai, kepribadian, maupun hubungan Anda dengan anak. Ia tetaplah anak yang sama yang membutuhkan kasih sayang dan rasa aman dari keluarganya.
Berikut beberapa istilah yang dapat membantu memahami keragaman gender.
Cisgender: Istilah untuk seseorang yang identitas gendernya sesuai dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Misalnya, seseorang yang ditetapkan berjenis kelamin laki-laki saat lahir dan mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki disebut laki-laki cisgender.
Genderfluid: Istilah untuk seseorang yang pengalaman atau identitas gendernya dapat berubah seiring waktu. Perubahan tersebut dapat terjadi pada cara seseorang memahami dirinya, mengekspresikan dirinya, atau keduanya.
Genderqueer: Istilah payung bagi seseorang yang identitas gendernya tidak sepenuhnya berada dalam kategori laki-laki atau perempuan, atau memandang gender sebagai sesuatu yang lebih beragam daripada dua kategori tersebut.
Transgender: Istilah untuk seseorang yang identitas gendernya berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Karena itu, sebagian orang transgender memilih mengekspresikan dirinya dengan cara yang lebih sesuai dengan identitas gendernya. Misalnya, seseorang yang ditetapkan berjenis kelamin laki-laki saat lahir dapat mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan dan memilih mengekspresikan dirinya sebagai perempuan. Hal yang sama juga dapat terjadi pada seseorang yang ditetapkan berjenis kelamin perempuan saat lahir tetapi mengidentifikasi dirinya sebagai laki-laki.
APA KESIMPULAN TENTANG MEMAHAMI GENDER?
Memahami gender berarti memahami bahwa orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender adalah tiga hal yang berbeda. Orientasi seksual tidak menentukan identitas maupun ekspresi gender, begitu pula identitas dan ekspresi gender tidak menentukan orientasi seksual.
Bagi sebagian anak, mengeksplorasi cara berpakaian atau mengekspresikan diri merupakan bagian dari proses mengenal dirinya. Karena itu, seorang anak yang menunjukkan ekspresi gender feminin atau maskulin tidak serta-merta akan memiliki identitas gender tertentu atau menjadi transgender.
Dalam mendampingi anak, penting untuk mempertimbangkan situasi dan lingkungan tempat mereka tumbuh. Memahami tingkat penerimaan masyarakat, mengenali berbagai risiko yang mungkin muncul, serta membicarakannya secara terbuka bersama anak dapat membantu keluarga mengambil keputusan yang lebih aman dan sesuai dengan keadaan.
Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang mudah. Berbicara dengan konselor atau orangtua lain yang memiliki pengalaman serupa dapat membantu Anda memperoleh sudut pandang baru dan menghadapi situasi ini dengan lebih tenang.
Pada akhirnya, identitas maupun ekspresi gender anak bukanlah ukuran keberhasilan orangtua. Yang tetap dapat diwariskan kepada setiap anak adalah nilai-nilai seperti kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, dan kasih sayang. Dengan nilai-nilai tersebut, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang baik.
Di bawah ini adalah beberapa bagian lain yang bisa Anda baca jika membutukan informasi lebih lanjut:

Sebagai pelengkap bacaan memahami gender, melela.org menyarankan Anda membaca buku karangan Kevin Halim yang berjudul Penerimaan:Kumpulan Cerita Penerimaan Orangtua dengan Anak Transpuan. Buku ini tersedia gratis dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris untuk pembaca melela.org.
Untuk membaca versi bahasa Indonesia klik di sini dan untuk membaca versi bahasa Inggris klik di sini.
Kevin Halim pernah berbagi kisahnya di melela.org, untuk membaca kisahnya klik di sini.
























No Responses to “Memahami Gender”