KETIKA ANAK MELELA
Kata melela dapat digunakan sebagai padanan dari istilah bahasa Inggris coming out, yaitu ketika seseorang yang merupakan bagian dari komunitas LGBT memilih untuk membuka identitasnya kepada orang-orang di sekitarnya.
Bagi banyak anak, melela adalah langkah untuk hidup dengan lebih jujur terhadap dirinya sendiri. Bagi orangtua, momen ini sering kali menjadi awal dari perjalanan baru untuk memahami sesuatu yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tidak sedikit orangtua yang merasa bingung ketika anak melela. Perasaan itu sangat wajar. Hingga saat ini, masih sedikit panduan berbahasa Indonesia yang membantu orangtua memahami situasi ini dan menanggapinya dengan tenang. Cara orangtua merespons pada masa-masa awal dapat menjadi fondasi bagi hubungan yang sehat dan penuh kepercayaan di kemudian hari.
ANAK SAYA BARU SAJA MELELA, APA YANG HARUS SAYA SAMPAIKAN KEPADANYA?
Jika Anda merasa bingung, tidak tahu harus berkata apa, atau takut mengucapkan kalimat yang keliru, ketahuilah bahwa perasaan tersebut sangatlah wajar. Melela bukan hanya menjadi perjalanan baru bagi anak Anda, tetapi juga bagi Anda sebagai orangtua.
Anda tidak perlu langsung memiliki semua jawaban. Menjadi orangtua selalu dipenuhi berbagai pengalaman pertama. Ketika anak lahir, Anda belajar mengasuh bayi. Ketika ia mulai bersekolah, Anda belajar mendampinginya menghadapi dunia baru. Ketika ia memasuki masa remaja, Anda kembali belajar memahami perubahan yang terjadi pada dirinya.
Demikian pula ketika anak melela. Anda mungkin belum pernah menghadapi situasi ini sebelumnya. Tidak apa-apa jika Anda masih belajar. Yang paling dibutuhkan anak pada saat ini bukanlah orangtua yang mengetahui semua jawaban, melainkan orangtua yang bersedia tetap hadir, mendengarkan, dan terus belajar bersama.
Hubungan antara orangtua dan anak akan terus berkembang sepanjang hidup. Melela bukanlah akhir dari hubungan tersebut, melainkan awal dari percakapan baru yang dapat membuat hubungan Anda semakin dekat.
BAGAIMANA MEMBUKA DIALOG PERTAMA?
Setelah melela, baik Anda maupun anak mungkin sama-sama membutuhkan waktu untuk membiasakan diri membicarakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah menjadi topik percakapan. Hal itu sepenuhnya wajar.
Anda tidak perlu mencari kalimat yang sempurna. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk berbicara.
Bila hubungan Anda selama ini dipenuhi candaan, Anda dapat memulainya dengan cara yang ringan. Misalnya, ketika mengetahui anak lelaki Anda sedang menyukai seorang pria, Anda bisa berkata sambil tersenyum, “Dia teman atau teman, nih?” sambil mengusap bahunya.
Mungkin anak Anda akan tersipu atau tertawa malu. Namun, di balik candaan sederhana itu, Anda sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih penting: bahwa Anda tetap mencintainya, dan tetap ingin menjadi bagian dari hidupnya.
Tentu saja, setiap keluarga memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Tidak semua orang nyaman menggunakan humor, dan itu tidak masalah. Anda dapat memulai percakapan dengan cara yang paling sesuai dengan hubungan yang selama ini telah terbangun.
Yang perlu diingat, anak tidak sedang menilai apakah Anda memilih kata-kata yang sempurna. Ia sedang mencari tanda bahwa hubungan Anda dengannya tidak berubah. Ketika ia merasakan kasih sayang itu, percakapan berikutnya biasanya akan mengalir dengan lebih mudah.
APAKAH SAYA PERLU MENGUBAH POLA KOMUNIKASI DENGANNYA?
Tidak.
Jika selama ini Anda dan anak memang jarang membahas kehidupan pribadi, jangan merasa harus tiba-tiba mengubah seluruh cara Anda berkomunikasi. Perubahan yang terlalu mendadak justru dapat membuat anak merasa canggung.
Anak lebih membutuhkan konsistensi daripada perubahan yang drastis. Ia ingin mengetahui bahwa ia tetap memiliki orangtua yang sama seperti sebelum ia melela.
Anak Anda tetaplah anak yang sama. Ia masih memiliki kepribadian, nilai-nilai, kebiasaan, dan kasih sayang yang sama seperti yang Anda kenal selama ini. Yang berubah hanyalah kini ia mulai merasa cukup aman untuk memperlihatkan bagian dari dirinya yang selama ini belum berani ia ceritakan.
Mungkin Anda akan mulai mengetahui ketertarikan, pengalaman, atau sisi kehidupannya yang sebelumnya tidak pernah Anda lihat. Hal-hal tersebut mungkin terasa baru bagi Anda, tetapi bukan berarti anak Anda telah berubah menjadi orang yang berbeda.
Berikan waktu kepada diri Anda untuk menyesuaikan diri. Semakin sering Anda membangun percakapan yang terbuka dan saling menghormati, semakin mudah pula Anda dan anak melewati proses ini bersama.
SAYA TIDAK SENGAJA MENGETAHUI KALAU ANAK SAYA BERBEDA. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?
Mengetahui identitas anak tanpa ia sendiri yang memberitahukannya dapat menimbulkan berbagai perasaan. Anda mungkin terkejut, bingung, kecewa, atau khawatir mengambil langkah yang salah. Semua perasaan itu manusiawi.
Situasi ini ibarat membuka kado ulang tahun sebelum waktunya. Anda mengetahui sesuatu yang sebenarnya belum siap dibagikan kepada Anda. Karena itu, langkah pertama yang paling penting adalah memberi diri Anda waktu untuk menenangkan pikiran sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan.
Cobalah melihat keputusan anak untuk merahasiakan identitasnya dari sudut pandang yang lebih luas. Keputusan tersebut bukanlah ukuran keberhasilan atau kegagalan Anda sebagai orangtua. Banyak anak membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum merasa cukup aman untuk melela, bahkan kepada orangtua yang sangat mereka cintai.
Langkah berikutnya bergantung pada hubungan Anda dengan anak. Ada orangtua yang memilih membicarakannya secara langsung, dan ada pula yang memilih menunggu sampai anak merasa siap. Keduanya dapat menjadi pilihan yang baik apabila dilakukan dengan penuh pertimbangan.
JIKA ANDA MEMILIH UNTUK MEMBICARAKANNYA
Mulailah dengan menjelaskan bahwa Anda mengetahui hal tersebut secara tidak sengaja. Sampaikan bahwa Anda tidak pernah berniat mengintip, menyelidiki, atau membongkar rahasianya. Menjaga kepercayaan anak tetap menjadi hal yang utama.
Yakinkan bahwa kasih sayang Anda kepadanya tidak berubah. Jangan khawatir jika Anda perlu mengatakannya lebih dari sekali. Pada saat-saat seperti ini, anak sering kali membutuhkan kepastian bahwa ia tetap dicintai.
Setelah itu, berikan ruang bagi anak untuk merespons. Ia mungkin marah, kecewa, atau belum siap berbicara. Hormatilah perasaannya. Sampaikan bahwa tidak ada kewajiban baginya untuk menjelaskan apa pun saat itu juga. Ketika ia siap berbicara, Anda akan siap mendengarkan.
JIKA ANDA MEMILIH MENUNGGU UNTUK MEMBICARAKANNYA
Jagalah privasi anak sebagaimana Anda ingin privasi Anda dihormati. Rasa ingin tahu mungkin membuat Anda ingin mencari lebih banyak informasi, tetapi menghormati batasannya akan membantu menjaga kepercayaan di antara Anda berdua.
Jika Anda membutuhkan tempat bercerita, pilihlah satu atau dua orang yang benar-benar Anda percaya. Tidak semua orang perlu mengetahui situasi ini. Pastikan mereka dapat menjaga kerahasiaan anak dan tidak mendorongnya untuk melela sebelum ia siap.
Sambil menunggu, Anda dapat memberikan tanda-tanda kecil bahwa Anda mengetahui keberadaan LGBT. Misalnya, ketika membahas berita atau isu hak asasi manusia, sampaikan pandangan Anda dengan tenang dan tanpa nada menghakimi. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali membuat anak merasa bahwa rumahnya adalah tempat yang aman untuk bercerita.
Apabila suatu hari nanti anak memilih melela kepada Anda, bersikaplah jujur. Sampaikan bahwa Anda sebenarnya telah mengetahui sebelumnya secara tidak sengaja, tetapi memilih menunggu karena ingin menghormati waktu dan kesiapannya. Bagi banyak anak, mengetahui bahwa orangtuanya bersedia menunggu adalah bentuk kasih sayang yang sangat berarti.
RASANYA ANAK SAYA MUNGKIN MEMILIKI ORIENTASI SEKSUAL YANG BERBEDA, TETAPI IA BELUM MEMBICARAKANNYA KEPADA SAYA. APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN?
Mungkin Anda mulai menyadari adanya perubahan pada anak. Bisa jadi Anda melihat sesuatu yang ia unggah di media sosial, memperhatikan kedekatannya dengan seseorang, atau sekadar memiliki firasat bahwa ada sesuatu yang belum ia ceritakan kepada Anda.
Boleh jadi firasat Anda benar. Namun, boleh jadi juga tidak.
Dalam situasi seperti ini, keinginan untuk segera bertanya adalah hal yang sangat manusiawi. Banyak orangtua merasa bahwa memperoleh jawaban secepat mungkin akan membuat mereka lebih tenang. Namun, bagi anak, pertanyaan tersebut belum tentu terasa sebagai ajakan untuk berbicara. Ia bisa saja merasakannya sebagai tanda bahwa dirinya sedang diperiksa atau didesak untuk mengungkapkan sesuatu yang belum siap ia sampaikan.
Salah satu bagian terpenting dari proses melela adalah kesempatan bagi anak untuk memilih kapan, bagaimana, dan kepada siapa ia ingin membuka identitasnya. Memiliki kendali atas proses tersebut sering kali membuat anak merasa lebih aman dan lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan yang akan muncul setelahnya.
Karena itu, daripada berusaha mendapatkan jawaban dengan segera, lebih baik berfokus membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Ketika ia percaya bahwa ia akan diterima dan didengarkan, kemungkinan ia akan melela kepada Anda dengan kemauannya sendiri menjadi jauh lebih besar.
Hal ini juga penting apabila anak Anda sendiri masih sedang berusaha memahami dirinya. Jika ia belum benar-benar yakin dengan orientasi seksualnya, pertanyaan yang datang terlalu cepat justru dapat membuatnya semakin bingung atau merasa tertekan.
Bahkan ketika disampaikan dengan sangat tenang, sebuah pertanyaan yang belum siap dijawab dapat menimbulkan kepanikan. Sebagian anak memilih diam. Sebagian lagi memberikan jawaban yang mereka anggap ingin didengar oleh orangtuanya, bukan jawaban yang sebenarnya.
Apabila hal itu terjadi, anak justru berada dalam situasi yang lebih sulit. Ia harus memilih antara mengatakan sesuatu yang belum siap ia ungkapkan atau menyembunyikan perasaannya dari orang yang paling ia sayangi.
Hubungan yang dilandasi rasa aman hampir selalu membuka lebih banyak percakapan daripada hubungan yang dibangun di atas desakan untuk segera mendapatkan jawaban.
PERLUKAH SAYA BERTANYA LANGSUNG KEPADA ANAK SAYA?
Menanyakan orientasi seksual anak secara langsung belum tentu membantu. Bahkan, jika anak belum siap, pertanyaan tersebut dapat membuatnya merasa terpojok atau kehilangan kendali atas proses melela yang sedang ia jalani.
Lalu, apa yang dapat dilakukan sebagai orangtua?
Mulailah membicarakan bahwa keluarga di dunia memiliki bentuk yang beragam. Ada anak yang dibesarkan oleh ayah dan ibu, ada yang tinggal bersama ibu saja atau ayah saja, di luar negeri, ada pula yang memiliki dua ayah atau dua ibu. Cepat atau lambat, anak akan menemukan kenyataan tersebut melalui lingkungan atau media. Membicarakannya di rumah akan membantu anak memahami bahwa keberagaman adalah bagian dari kehidupan.
Banyak orangtua khawatir bahwa membahas orientasi seksual berarti membicarakan seks dengan anak. Padahal keduanya tidak sama. Percakapan dapat dimulai dari hal yang paling sederhana, yaitu tentang kasih sayang dan hubungan antarmanusia.
Misalnya, sejak kecil anak mengetahui bahwa seorang laki-laki dapat mencintai seorang perempuan. Dengan cara yang sama, orangtua juga dapat menjelaskan bahwa ada laki-laki yang jatuh cinta kepada laki-laki, atau perempuan yang jatuh cinta kepada perempuan. Percakapan seperti ini tidak harus membahas hubungan seksual, melainkan membantu anak memahami bahwa setiap orang dapat memiliki pengalaman hidup yang berbeda.
Berikan juga ruang bagi anak untuk berekspresi sesuai dengan minatnya. Hindari memberi kesan bahwa ada permainan, warna, atau pakaian yang hanya boleh disukai oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Batasan yang terlalu kaku dapat membuat anak merasa bersalah terhadap hal-hal yang sebenarnya ia nikmati.
Jika suatu saat pilihan atau ekspresi anak mengundang komentar dari orang lain, jangan berpura-pura bahwa hal itu tidak akan terjadi. Jujurlah bahwa mungkin saja ada orang yang mengejek atau tidak memahami dirinya. Namun, pastikan anak mengetahui satu hal yang lebih penting: apa pun yang terjadi di luar rumah, ia selalu memiliki orangtua yang bersedia mendengarkan, melindungi, dan mendampinginya.
Pada akhirnya, rasa aman yang Anda bangun setiap hari akan jauh lebih berarti daripada satu pertanyaan yang diajukan pada waktu yang belum tepat.
CARA BERMAIN ANAK MEMBUAT SAYA MERASA IA AKAN MENJADI GAY NANTINYA. BENARKAH?
Banyak orangtua mulai bertanya-tanya mengenai orientasi seksual anak setelah melihat pilihan mainannya, cara berpakaian, atau perilakunya sehari-hari. Kekhawatiran seperti ini cukup sering muncul dan sepenuhnya dapat dimengerti.
Namun, penting untuk diingat bahwa perilaku anak tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan orientasi seksualnya.
Misalnya, apakah anak laki-laki yang senang bermain boneka pasti akan tumbuh menjadi seorang gay? Tidak. Banyak anak laki-laki menyukai boneka ketika kecil, lalu tumbuh menjadi laki-laki heteroseksual.
Sebaliknya, ada pula anak perempuan yang lebih senang bermain di lapangan daripada mengenakan gaun. Sebagian di antaranya tumbuh sebagai perempuan homoseksual, tetapi banyak pula yang tumbuh dengan ketertarikan kepada laki-laki.
Dengan kata lain, tidak ada hubungan yang pasti antara pilihan mainan, cara berpakaian, atau ekspresi gender seorang anak dengan orientasi seksualnya ketika dewasa.
Perkembangan setiap anak dipengaruhi oleh banyak faktor. Karena itu, berhati-hatilah menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu atau dua perilaku yang Anda amati.
Apabila Anda mulai memiliki pertanyaan mengenai LGBT, luangkan waktu untuk memperkaya pengetahuan dari sumber yang dapat dipercaya. Berbicara dengan orang yang memiliki keahlian di bidang ini juga dapat membantu Anda memahami situasi dengan lebih utuh. Pengetahuan yang baik akan membantu Anda merespons anak dengan lebih tenang apabila suatu hari nanti ia mengajak Anda berbicara mengenai dirinya.
Yang terpenting, apa pun dugaan Anda saat ini, usahakan agar anak tetap merasakan tiga hal dalam keluarga: kasih sayang, penerimaan, dan ruang untuk berdialog secara terbuka. Ketiga hal inilah yang akan paling membantu perkembangan anak, apa pun orientasi seksualnya di kemudian hari.
APA KESIMPULAN MELELA DALAM KONTEKS HUBUNGAN ORANGTUA DAN ANAK?
Setiap keluarga memiliki perjalanan yang berbeda. Ada anak yang melela pada usia belasan tahun, ada yang baru melakukannya ketika sudah dewasa, dan ada pula yang memilih untuk tidak pernah melakukannya. Tidak ada satu pengalaman yang sama persis.
Namun, dari berbagai pembahasan pada bab ini, ada empat prinsip yang dapat menjadi pegangan bagi orangtua.
Pertama, bersabarlah. Apabila suatu hari anak memilih melela kepada Anda, ingatlah bahwa keputusan tersebut lahir dari keberanian dan kepercayaan yang ia berikan kepada orangtuanya. Sambutlah keberanian itu dengan kesediaan untuk mendengarkan.
Kedua, bangunlah suasana rumah yang hangat dan terbuka. Rumah yang menghargai keberagaman akan membuat anak lebih mudah percaya bahwa ia dapat diterima apa adanya.
Ketiga, jagalah konsistensi hubungan Anda dengan anak. Melela bukanlah alasan untuk mengubah cara Anda mencintai, menghormati, atau memperlakukan dirinya. Anak Anda tetaplah anak yang sama.
Keempat, berikan ruang bagi anak untuk bertumbuh dan berekspresi dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Ketika anak merasa diterima di rumah, ia akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk menghadapi dunia di luar.
Tidak ada orangtua yang selalu mengetahui apa yang harus dilakukan dalam setiap situasi. Namun, kasih sayang yang disertai kesediaan untuk terus belajar sering kali menjadi bekal terbaik bagi orangtua maupun anak untuk melewati perjalanan ini bersama.
Di bawah ini adalah beberapa bagian lain yang bisa Anda baca jika membutukan informasi lebih lanjut:






















No Responses to “Ketika Anak Melela”