Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kebetulan, jarak umur di antara kami cukup besar. Aku dan Farid Hamka, adik bungsku terpaut 11 tahun. Karena itu, aku sangat dekat dengan Ari, panggilan sayangku padanya. Meski tidak pernah menyimpulkan dengan pasti bahwa Ari berbeda, ketika aku mengingat kembali masa kecilnya, aku bisa menarik benang merah dan melihat bahwa tanda-tanda itu memang ada.
Di masa pubertas, aku melihat ada sesuatu yang membuat Ari menjadi pribadi yang mudah marah dan tersinggung. Namun aku berpikir, ini mungkin hanya fase puber di mana seorang anak mencari jati dirinya. Aku pun pernah mengalami masa-masa di mana aku merasa “It was just me against the world”. Aku sempat mengalami masa depresi dan tidak percaya diri, bahkan aku sempat menderita bulimia dan anorexia. Aku bersyukur, akhirnya aku dapat melaluinya dan mengubah pola pikirku menjadi positif. Hal ini membuat aku khawatir dan berharap Ari tidak harus merasa sendirian saat melalui masa sulit ini. Sampai pada akhirnya di saat Ari kuliah, aku spontan saja mengatakan kepadanya.
“I am totally fine with people being gay, everyone deserves to be happy,” kataku.
Apa yang aku coba sampaikan kepadanya adalah pandanganku mengenai mereka yang dilahirkan dengan identitas yang berbeda. Aku tidak bisa memaksa adikku untuk berterus terang kepadaku ketika ia belum siap, tetapi aku ingin membuat Ari merasa nyaman denganku. Jika Ari bisa merasa nyaman denganku, mungkin ia akan mulai membuka dirinya. Aku menyayangi Ari.
Aku memiliki teman dengan berbagai latar belakang. Dari mulai suku, agama, ras, sampai orientasi seksual. Menurutku, memiliki teman dengan berbagai latar belakang membuatku tidak mudah menghakimi orang lain. Having friends with different backgrounds is one of the ways that makes me humble.
Aku tidak bisa memaksa adikku untuk berterus terang kepadaku ketika ia belum siap, tetapi aku ingin membuat Ari merasa nyaman denganku.
Sewaktu Ari mulai nyaman dan terbuka denganku, kita menjadi semakin dekat. Kita jadi bisa membahas hal-hal yang belum pernah kita bicarakan sebelumnya. Misalnya, kini, Ari menjadi teman curhat ku tentang percintaan dan pria mana kira-kira yang potensial menjadi pasanganku. Aku suka senyum-senyum sendiri ketika mengingat hubungan yang aku miliki kini dengannya.
Semenjak bisa lebih terbuka, ada perubahan positif yang kulihat dari Ari. Selain lebih dekat dengan keluarga, ia juga sudah tidak mudah marah lagi. Kini Ari lebih ceria dan lebih sering tertawa jika menghabiskan waktu bersama kami.
***
Kekhawatiran akan tanggapan keluarga atau pun kerabat tentang perbedaan ini tentunya sempat ada. Apalagi perbedaan generasi yang tentu saja memiliki penafsiran berbeda tentang LGBT. Aku sempat takut bahwa hal ini akan menimbulkan reaksi yang negatif. Namun aku yakin satu hal dan hal itu membuatku tenang. Dalam doaku, aku mendapatkan keyakinan bahwa kasih orangtua itu tulus dan tak terhingga. Sehingga aku percaya, bahwa pada akhirnyakebahagiaan Ari adalah yang utama bagi keluarga.
Jika Ari bisa merasa nyaman denganku, mungkin ia akan mulai membuka dirinya.
Aku tak henti bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan orangtua yang sangat bijak. Meskipun didikan keras dan disiplin selalu diterapkan, mereka tidak pernah sekalipun mengajarkan aku untuk menghakimi orang lain terlepas perbedaan ras, suku, agama, warna kulit dan latar belakang. Bahkan ketakutanku semula akan tanggapan mereka akan perbedaan Ari tidak terbukti. Di tengah emosi yang pasti berkecamuk di hati mereka, tak sekalipun mereka merendahkan atau menjatuhkan Ari.
Sebagai seorang kakak, aku hanya bisa mengingatkan Ari akan risiko-risiko yang mungkin muncul dari langkah yang diambilnya ketika ia memutuskan untuk terbuka sebagai seseorang yang memiliki identitas berbeda. Aku tidak mungkin melarang Ari dan aku menghormati keputusan yang diambilnya, tetapi aku juga ingin Ari ikut memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin muncul dari masyarakat agar bisa mempersiapkan diri lebih matang.
Akhir kata, aku percaya kesuksesan dan kebahagiaan seorang manusia tergantung dari bagaimana ia menjalani hidupnya. Semua orang–terlepas dari gender, usia, ras, agama dan latar belakang–mempunyai hak untuk memperjuangkan kebahagiaanya. Demikian juga mereka yang memiliki orientasi berbeda. Untuk itu janganlah sampai perbedaan ini dijadikan alasan dan juga faktor penghambat.
***
Fitria Yusuf lulus dari Menlo College, Amerika Serikat, dan meneruskan ke GS Fame Institute of Business Jakarta. Kini ia menjabat sebagai President Director of Ozone Eatery and Hotel. Wanita pemilik akun Instagram @Fitriayusuf_official ini adalah anak pertama dari dua adik, Feisal Hamka dan Farid Hamka. Pada 2015, ia meluncurkan channel Youtube yang berisi informasi seputar gaya hidup sehat untuk wanita urban.
BE A HERO, PARTICIPATE! Anda dapat berbagi pengalaman terkait dengan komunitas LGBT Indonesia. Kirimkan cerita Anda ke contact@melela.org dan temukan langkah-langkah pengiriman kisah di menu Share Your Story yang terdapat di bagian atas halaman ini. Kisah Anda akan menjadi bukti nyata akan masyarakat Indonesia yang inklusif dan berpikiran terbuka.






















No Responses to “Fitria Yusuf , “Everyone Deserves to be Happy””