Memiliki latar belakang dunia kreatif dan periklanan membuat saya lebih rileks dalam menghadapi keberagaman latar belakang di dunia kerja. Banyak orang yang menganggap dunia agensi periklanan adalah industri yang aneh. Dibilang aneh, ya, aneh. Mungkin karena mereka yang bekerja di agensi periklanan harus memberikan solusi terbaik kepada klien dan diberikan tenggat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan. Tekanan menyelesaikan pekerjaan begitu besar. Oleh karena itulah, kita tidak ada waktu untuk sibuk berpura-pura menjadi orang lain kepada tim dan setiap anggota tim bisa menjadi dirinya sendiri. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa saya sempat begitu mencintai dunia komunikasi periklanan. Di saat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri, dan merasa nyaman, kinerja kerja akan meningkat. Hal ini membentuk perspektif saya dalam melihat rekan kerja dan karyawan sampai hari ini.
Di dunia periklanan lah saya pertama kali dipertemukan dengan rekan kerja LGBT. Salah satu yang paling berkesan adalah persahabatan saya dengan direktur kreatif saya sewaktu masih bekerja di biro iklan Ogilvy & Mather. Ia adalah seorang lelaki yang dilahirkan berbeda. Dia seorang gay, cerdas, dan seorang pencerita yang baik. Ia mampu menciptakan sebuah karya dan menceritakan rasional di balik karya kreatifnya. Ini kualitas yang jarang dimiliki orang-orang di industri kreatif. Kebanyakan orang kreatif bisa menciptakan karya kreatif tetapi sulit untuk menjelaskan rasional akan karya kreatifnya. Namun, teman saya ini memiliki kualitas yang jarang dimiliki orang-orang kreatif. Dia sangatlah istimewa.
Di saat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri, dan merasa nyaman, kinerja kerja akan meningkat.
Pada tahun 1987, industri periklanan sangatlah menjanjikan dan salah satu agensi perikalan terbesar saat itu adalah Ogilvy & Mather. Walaupun saya sebelumnya sudah pernah bekerja di bidang periklanan, saya tidak punya pendidikan resmi di bidang komunikasi dan marketing. Keahlian mengenai periklanan saya dapatkan langsung di tempat kerja dan menemukan mentor yang tepat. Direktur kreatif saya adalah salah satu orang yang menambah pengetahuan saya mengenai dunia periklanan sampai akhirnya saya meraih posisi sebagai Presiden Direktur di Ogilvy & Mather. Dia adalah salah satu orang yang berjasa atas keberhasilan karier saya.
Di kantor, dia tidak pernah mengatakan dengan langsung mengenai identitas pribadinya, tetapi, jika ditanya, ia tidak akan menutupi. Saat itu masih tahun 1980-an, akses terhadap informasi dan komunikasi masih begitu terbatas. Akibatnya, orang masih belum bisa menghadapi fenomena LGBT dengan lebih rileks dan bisa malah memanfaatkan keadaan seseorang. Karena belum terbiasa dengan LGBT, ada saja orang yang suka menindas dan memanfaatkan situasi.
***
Suatu ketika, teman saya dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mengambil untung dari kelompok masyarakat tertentu. Ia diperas dan diancam. Ancaman yang diberikan kepadanya semakin besar dan mulai mempengaruhi pekerjaan. Saat itu perusahaan tidak ingin mengambil risiko di masa depan dan wacana memberhentikan teman saya dari pekerjaannya mulai muncul. Menyadari hal ini, saya adalah satu-satunya orang di perusahaan yang tidak setuju akan keputusan memberhentikannya. Buat saya, berdiri sendiri untuk membelanya adalah keputusan yang rasional. Saya berpihak kepada kebenaran.
Seorang pemimpin harus bisa melihat situasi dengan helicopter view, di situ saya bisa melihat bahwa teman saya sedang dimanfaatkan. Dan jika ini dibiarkan terjadi, perusahaan akan cenderung mengulangi pola yang sama dan tidak akan tercipta suasana kerja yang adil bagi setiap karyawan.
Kita harus menciptakan sebuah situasi bekerja yang setiap karyawannya bisa mendapatkan kesempatan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang.
Saya rasa, kita harus menciptakan sebuah situasi bekerja yang setiap karyawannya bisa mendapatkan kesempatan yang sama tanpa membeda-bedakan latar belakang. Di Putera Sampoerna Foundation, kami menerapkan nilai meritokrasi sebagai salah satu prinsip perusahaan. Prinsip meritokrasi menjamin bahwa setiap karyawan berhak mendapatkan penghargaan sesuai dengan komitmen dan loyalitas. Bicara komitmen, seseorang bisa menunjukkan komitmennya dengan berbagai cara, misalnya, ada yang menghabiskan waktu di kantor sampai larut, tetapi ada juga yang lebih memilih pulang tepat waktu. Apapun caranya, tidak masalah, karena yang dilihat adalah hasil pekerjaannya. Hasil pekerjaan mencerminkan komitmen kepada perusahaan.
***
Dengan berfokus pada hasil kerja, perusahaan akan mampu menarik karyawan dengan latar belakang keahlian dan talenta yang begitu beragam. Dalam pengalaman kepemimpinan saya, saya pernah mempekerjakan tenaga kerja tidak hanya lintas suku, tetapi juga lintas bangsa karena sayai percaya akan pluralisme. Saya berusaha menekankan sikap toleransi dan saling menghormati sebagai bagian dari budaya perusahaan. Terdapat beberapa karyawan kami adalah LGBT dengan prestasi bekerja yang cukup bisa dibanggakan.
Terdapat beberapa karyawan kami adalah LGBT dengan prestasi bekerja yang cukup bisa dibanggakan
Bagi saya pribadi, LGBT selalu bisa memberikan ide kreatif yang bisa memberikan kontribusi baik pada perusahaan. Personally speaking, they have the best mind. Saya rasa LGBT tidak usah malu akan jati dirinya di lingkungan pekerjaan. Selama mereka memberikan kontribusi postif, anggota tim yang baik, dan bisa bersikap profesional—itulah sebenarnya yang terpenting.
Penerimaan dunia kerja terhadap LGBT saat ini jauh lebih baik. Jika dua puluh tahun yang lalu, orang mungkin masih suka berbicara di belakang dan menganggap mereka sebagai fenomena yang horor, tetapi, saat ini tidak seperti itu lagi. Dunia bisnis harus bisa mengakomodasi kedaan terkini untuk bisa bertahan.
***
Nenny Soemawinata meninggalkan posisi terakhirnya di dunia periklanan pada 1996 sebagai Presiden Direktur Ogilvy and Mather dan beralih ke dunia pertelevisian. Ia bergabung dengan stasiun televisi ANTEVE dan berhasil membawa stasiun televisi tersebut menjadi salah satu stasiun televisi yang diperhitungkan di Indonesia serta membina hubungan baik dengan MTV yang saat itu menyiarkan programnya di ANTEVE. Karena prestasinya ini, ia berhasil menjabat sebagai CEO ANTEVE dalam waktu kurang dari satu tahun. Pada 2009 ia bergabung di Putera Sampoerna Foundation.
BE A HERO, PARTICIPATE! Anda dapat berbagi pengalaman terkait dengan komunitas LGBT Indonesia. Baca langkah-langkah pengiriman kisah di menu Share Your Story. Kisah Anda akan menjadi bukti nyata akan masyarakat Indonesia yang inklusif dan berpikiran terbuka.






















No Responses to “Nenny Soemawinata dan Prinsip Meritokrasi”