• ABOUT
  • SHARE YOUR STORY
  • FAQ
  • MEDIA MENTIONS
  • MAKE A DONATION
  • PARENTS GUIDE

Logo

Gallery

Navigation
  • ABOUT
  • SHARE YOUR STORY
  • FAQ
  • MEDIA MENTIONS
  • MAKE A DONATION
  • PARENTS GUIDE

“You Are Not One Label,” Ujar Taja

By Melela.org | on February 16, 2015 | 1 Comment
Your Story

Saat kecil hidup gw itu sederhana: main sama teman-teman, minta dibeliin mainan sama orangtua, atau pura-pura sakit saat malas sekolah. Sedrama-dramanya hidup gw paling nangis gara-gara diejek teman atau di-bully kakak kelas (Maklum gw emang cengeng banget dulu!). Ketika duduk di bangku sekolah, gw akhirnya mengalami drama level tinggi gw yang pertama: Naksir sama teman sekolah, dan dia adalah seorang laki-laki! Langsung porak-poranda rutinitas main-merengek-bolos-nangis yang biasa terjadi hidup gw selama ini. Rasanya, saat jati diri aja belum ketemu, sudah krisis identitas!

Ketika duduk di bangku sekolah, gw akhirnya mengalami drama level tinggi gw yang pertama.

Kemelut ini tercermin dalam koleksi musik gw saat itu yang tidak ada benang merah yang jelas: Dari Cardigans, Potret, Lingua sampai the Corrs, sampai Garbage, Suede, Bjork dan beberapa track Cocteau Twins. Dari yang manis sampai miris semua didengerin. Suatu saat saat gwb bisa lagi ngayal romantis sama si pacar imajiner senandungan manis Nina Persson dari Cardigans yang menemani, saat berikutnya langsung sadar bahwa perasaan gw bertepuk sebelah tangan dan memekikan suara serak Shirley Manson dari Garbage! Kata kuncinya adalah imajiner, di mana perasaan dan romansa ini semua hanya terjadi dalam kepala sendiri, maklum, gw aja takut mikirin kenapa gw bisa suka sama sesama jenis, apalagi membahasnya sama seorang teman atau bahkan sama si kecengan! Kan gw anak cengeng dulu, takut digebukin atau dibugilin pulang sekolah kalo ketahuan…. Hahaha….

***

Seiring waktu makin banyak pertanyaan dalam diri gw yang muncul: Gw sendiriankah dalam hal ini? Ada orang lain tidak yang juga mengalami hal yang sama? Lalu kalau ada, namanya itu apa? Sangat kebetulan, pada saat itu modem dial up telah membuka pintu ke internet, dan dimulailah fase riset gw! Sayang sekali search engine pada masa itu belum bisa diandalkan sepenuhnya dalam menjawab segala misteri kehidupan (Percaya atau tidak, Google belum ada!). Tapi gw sudah menemukan satu fakta penting: Gw adalah seorang gay. Pada masa itu saat kita mengetik kata kunci “gay” pada search engine, yang akan keluar malahan konten pornografi. Internet masih muda dan belum ramai dengan situs-situs support LGBT yang positif seperti Melela.org.

Melihat gambar-gambar panas ini gw jadi mikir, apakah orang-orang gay itu otomatis asusila? Dan apakah mereka punya aktifitas lain di luar kamar tidur mereka? (atau lantai bengkel, meja bilyar, apapun setingan materi-materi riset yang keluar itu) Untungnya pada masa itu social media dan dating apps belum merambah dengan luas, jadi kecenderungan para netizens pada masa itu adalah untuk mencari teman ngobrol dalam chatrooms. Di dalam chatrooms inilah gw menemukan banyak sesama gay yang dengan sabar dan senang hati menjawab semua pertanyaan-pertanyaan gw. Coba bayangkan kalau hal yang sama terjadi di Grindr atau Tindr, jika tidak dimaki atau dikasi informasi ngawur, mungkin akan dicuekin (bercanda). Chatrooms ini dulu merupakan sarana orang-orang untuk berbicara saat mereka takut terdengar orang-orang di kehidupan nyata mereka. Dari sinilah gw mulai memberanikan diri menerima gw siapa, bahwa homoseksualitas itu tidak membentuk dan mendefinisikan karakter gw sepenuhnya, melainkan hanyalah satu aspek kecil yang membentuk identitas gw.

Pada masa itu saat kita mengetik kata kunci “gay” pada search engine, yang akan keluar malahan konten pornografi.

Pada akhirnya, gw membuka diri kepada dua orang sahabat terdekat gw di sekolah dulu, mereka menerima gw apa adanya, dan sampai sekarang kita masih berteman. Gw bahkan mengaku kepada ibu dan adik gw. Mereka tidak kaget, bahkan santai-santai saja, tidak ada nada penghakiman atau perabot melayang, hanya peluk-pelukan ala Oprah lalu back to business.

***

Nah, ada beberapa pelajaran yang gw ambil sebagai seorang gay yang sudah melela, ngejalanin hidup yang sehat, dan happy:

  • Rajin bertanya dan mencari-tahu, karena semakin sedikit kita mengerti akan sesuatu semakin takut dan tertutup kita jadinya, kan sekarang udah ada Google.
  • Membuka diri berteman dengan orang-orang yang lebih tua, orang-orang yang lebih berpengalaman itu bisa menjadi sumber informasi yang penting dalam banyak hal. Dari masalah asmara maupun kesehatan, bisa jadi life lessons mereka bisa menghindarkan kalian dari pengalaman-pengalaman tidak enak yang sama. Juga, kelilingi diri kalian dengan sahabat-sahabat dan keluarga yang tidak hanya menerima kita tapi mendorong kita untuk selalu lebih baik.
  • Gue nggak bisa ngelarang kalau ada yang mau nakal. Tapi, kalau nakal, nakal yang pintar. Sekarang itu gampang sekali mencari teman nakal, yang berarti penyebaran penyakit-penyakit menular itu juga semakin mudah. Jangan berharap bahwa lawan main kalian itu rajin tes darah atau selalu bertanggung-jawab. Seks aman itu tanggung jawab dan hak kalian, tapi ingat juga bahwa tidak semua penyakit dapat dicegah penularannya oleh kondom, seperti Hepatitis C dan Gonorrhea. Juga, keseringan gonta-ganti pasangan bisa memperbesar kemungkinan penularan sesuatu.
  • Jangan menyakiti orang. Ini suatu pelajaran yang sangat penting. Kalaupun kalian nanti mau mengakhiri sebuah hubungan dengan pacar kalian, selalu lakukan itu dengan baik-baik. Jangan mengakhiri sesuatu dengan affair atau ketidak-jujuran. Hidup itu ga enak kalau pelihara musuh, dan terkadang setelah beberapa tahun berlalu, seorang mantan itu bisa menjadi seorang sahabat yang luar biasa, mereka sudah tahu kekurangan dan kelebihan kita, dan tidak takut menegur kita saat sudah mulai ngawur.
  • Belajar tertawa. Pada akhirnya kita harus belajar menertawakan diri kita sendiri dan masalah-masalah kita, karena pada akhirnya semua masalah itu menjadi sepele sesudah waktu berlalu. Tahan-tahanin saja, dan rajin mengkonsumsi hiburan komedi.
  • Jangan berusaha mengubah pasangan anda. jika kalian berada dalam sebuah hubungan yang tidak sehat, entah dia kasar mulut maupun tangan, atau memanfaatkan kalian dalam cara apapun, jangan takut meninggalkan dia. Kita tidak bisa mengubah orang lain, itu harus datang dari dirinya sendiri. Walaupun kita kasihan atau takut sama dia, itu bukanlah alasan untuk tetap betah dalam sebuah hubungan, cinta itu seharusnya ga ribet.

Belajar tertawa. Pada akhirnya kita harus belajar menertawakan diri kita sendiri dan masalah-masalah kita.

  • Semua orang ada marketnya. Jangan cemas jika kalian tidak berbadan seperti para binaraga atau bintang film itu. Biarpun gendut maupun kurus, maskulin atau lembut, semua orang itu ada pasarnya. Kalau kata laki gw: “Jodoh kaya tukang nasi goreng tek-tek kok, ga usah ditungguin tar juga lewat” Senang sekali gw diibaratkan sebagai nasi goreng paling enak (dan sangat pedas) dalam hidup dia.

Sebenarnya kalau dibaca lagi poin-poin atas ini sama saja dan berlaku juga untuk hubungan heteroseksual. Berarti sama saja kan? Cuma beda pasangannya saja, jadi jangan merasa berkecil hati atau takut menjadi LGBT, kita itu lebih dari hanya sekedar satu label. Tergantung kita untuk menambah label-label apa saja pada diri kita, entah label itu ‘Seniman-Ibukota’, ‘Pelari-Marathon’, ‘Businessman’, ‘Best-homecook’ maupun ‘Anak-berbakti’ itu terserah kita sebanyak-banyaknya, sampai semua label-label negatif yang ditempel orang lain itu tertutup semua dengan yang positif.

***

Taja Sukarya lulus SMU pada 2002 dan meneruskan pendidikan desain grafis. Setelah lulus kuliah, Taja sempat menjadi berkecimpung di industri periklanan. Taja menggemari beberapa penulis; salah satunya adalah Terry Pratchett. Saat cerita ini dimuat di melea.org, pria berbintang Taurus ini sudah menjalani hubungan selama lima tahun bersama kekasihnya. Mereka tinggal bersama bilangan Jakarta Selatan ditemani anjing-anjing piaraannya. Korespondensi dengan Taja bisa melalui e-mail ke contact@melela.org dengan subjek “Taja Sukarya”.

BE A HERO, PARTICIPATE! Anda dapat berbagi kisah Anda saat melela dan menceritakan bagaimana orang-orang yang Anda cintai mampu menerima diri Anda dengan baik dengan mengirimkannya ke contact@melela.org. Baca langkah-langkah pengiriman kisah di menu Share Your Story yang terdapat di bagian atas halaman ini. Kisah Anda akan menjadi bukti nyata akan Indonesia yang inklusif dan berpikiran terbuka.

Share this story:
  • tweet

Recent Posts

  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih

    June 9, 2026 - 0 Comment
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan

    December 16, 2025 - 0 Comment
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri

    August 10, 2024 - 0 Comment

Author Description

Melela.org memberikan wadah pada insan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) dan non-LGBT untuk berbagi cerita, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat akan kelompok minoritas LGBT di Indonesia. Melela.org juga memiliki laman panduan orangtua yang menjawab pertanyaan awal ketika mengetahui anaknya berbeda. Halaman PARENTS GUIDE dapat ditemuka di beranda melela.org.

One Response to ““You Are Not One Label,” Ujar Taja”

  1. August 27, 2015

    TheDigitalBridges.com Reply

    Hey, thanks for the great post. I feel a lot better after having read this.

Leave a Reply Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*
*

  • Populer
  • Terbaru
  • Pujian
  • Pemahaman Seksualitas yang Tepat Banyak Membantu Dimas ketika Melela

    December 8, 2015 - 20 Comments
  • Goenawan Mohamad: Catatan Seorang Ayah

    November 22, 2013 - 15 Comments
  • Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017

    May 2, 2017 - 13 Comments
  • Hendri Yulius tentang, “The Art of Failure”

    November 25, 2015 - 11 Comments
  • Dr. Ryu Hasan, Sp.BS Ingin Semua Manusia Bahagia Menjadi Diri Sendiri

    February 13, 2014 - 10 Comments
  • Kisah Khrisna Siddharta

    March 15, 2014 - 9 Comments
  • Nurjanah, “LGBT Menyelamatkan Pendidikanku”

    February 4, 2016 - 6 Comments
  • Kunci Kebahagiaan dalam Hidup Tegar Ramadan

    January 2, 2016 - 4 Comments
  • Langkah Wisesa Mengejar Mimpi

    March 1, 2015 - 4 Comments
  • Mudahnya Kejujuran À La Paramita Mohamad

    November 15, 2013 - 3 Comments
  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih

    June 9, 2026 - 0 Comment
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan

    December 16, 2025 - 0 Comment
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri

    August 10, 2024 - 0 Comment
  • Strategi Pertemanan Arifaldi Dasril

    July 4, 2024 - 0 Comment
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    December 7, 2023 - 2 Comments
  • Kisah Cinta Pertama Denny dan Memaafkan Keluarga

    October 30, 2023 - 0 Comment
  • Memahami Gender

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Masa Depan Anak

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Menyikapi Kehidupan Pribadi Anak

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Reaksi Pertama Orangtua

    August 3, 2023 - 0 Comment
  • Langkah Wisesa Mengejar Mimpi

    […] – Belum lama ini, aku menemukan tulisanku yang dimuat...
    March 13, 2026 - Hanya Ingin Bertahan - SuaraKita
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    Saya minta tolong perbanyak kisah dari sudut pandang...
    February 26, 2024 - L
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil

    Mamii orang yang strong dan penuh kebaikan miss u mami
    December 7, 2023 - Jia
  • ABOUT

    […] website Melela.org, kata melela digunakan penulis Pramoedya...
    October 11, 2023 - [Artikel] Mengenal Istilah Melela, Berbeda dari Coming Out? - SuaraKita
  • Mudahnya Kejujuran À La Paramita Mohamad

    Kami juga senang kisah yang kami terbitkan membuat Janis senang...
    August 4, 2023 - Melela.org

Archives

Artikel Populer

  • Pemahaman Seksualitas yang Tepat Banyak Membantu Dimas ketika Melela

    December 8, 2015 - 20 Comments
  • Goenawan Mohamad: Catatan Seorang Ayah

    November 22, 2013 - 15 Comments
  • Kisah Melela Budi, Perwakilan Indonesia di Mr. Gay World 2017

    May 2, 2017 - 13 Comments
  • Hendri Yulius tentang, “The Art of Failure”

    November 25, 2015 - 11 Comments
  • Dr. Ryu Hasan, Sp.BS Ingin Semua Manusia Bahagia Menjadi Diri Sendiri

    February 13, 2014 - 10 Comments

Kisah Terbaru

  • Jerry Gobel Mohon Doa Dari Orang-orang Terkasih June 9, 2026
  • Christine Evans Menolak Mereka yang Berbeda Dimarginalkan December 16, 2025
  • Ichwan Thoha Sempat Berpikir Bunuh Diri August 10, 2024
  • Strategi Pertemanan Arifaldi Dasril July 4, 2024
  • Angela Ienes Mandiri Sejak Kecil December 7, 2023

Archives

MAKE A DONATION

Dukungan Anda penting untuk memastikan kelangsungan berjalannya situs melela.org. Semakin bertambahnya cerita yang dikirimkan dan dimuat dalam melela.org, semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk memastikan website ini tetap dapat diakses. Melela.org bergantung pada donasi yang diberikan pihak pribadi maupun institusi.

Berikan donasi Anda hari ini.

  • Home
  • ABOUT
  • ACUAN PARTISIPASI
  • FAQ
  • MAKE A DONATION
  • MEDIA MENTIONS
  • PARENTS GUIDE
  • SHARE YOUR STORY
© 2012. All Rights Reserved.